Home | a plain old wp coder | Web Design and Wordpress Custom

 

What i don't like about blogdesk 2.7

Saat ini tahun 2008, mungkin saat Johannes Oppermann menlaunching versi terbaru blogdesk maka posting ini jadi basi. Namun sampai momen itu tiba, posting ini masih bisa begaul hehehe.

Bandung Web DesainBlogdesk memiliki banyak fitur menarik seperti smartupload, ftp upload, dll. Blogdesk membantu menghemat waktu dalam menyusun draft draft posting. Namun sebagaimana judulnya, posting ini mengenai hal hal yg sy benci dari blogdesk versi 2.7. Sy membencinya karena alasan alasan berikut :

  1. Ukuran user interfacenya itu fixed alias tidak bisa diotakatik sesuai kebutuhan user.
  2. Blogdesk hanya bisa berjalan di windows. Blogdesk versi Linux dan Mac belum tersedia.

  3. Tampilannya kurang cantik (Mengingatkan pada tampilan kebanyakan aplikasi yang dicoding dengan Visual Basic).
  4. Tidak berfeature multitab membuatnya terlihat memiliki ‘keterbelakangan design’. Keterbelakangan ini seperti membandingkan IE 6 (internet explorer) Firefox. Interface blogdesk hanya membolehkan mengedit satu posting sekali waktu (Umumnya, aplikasi berbasis word processor baik desktop maupun web memiliki feature multitab sehingga blogger bisa mengedit lebih dari satu posting secara bersamaan.)
  5. Tidak tersedia opsi customisasi toolbar. Icon icon pada toolbarnya seolah digembok sehingga tidak bisa ditambah maupun dikurangi.
  6. Fitur editor WYSWYG (what you see What You get) terlalu sederhana. Banyak fasilitas editing layout standar yg tidak tersedia, Misalnya ukuran font size. Otomatis, bila hendak mengubah ukuran font maka kita harus mencoding kode HTMLnya secara langsung.
  7. Tidak mendukung blospots karena blogdesk hanya mendukung blog hosting yg menggunakan

monyet cintaSemoga Developer Blogdesk sudi menambah fitur dan mempertahankan apa yg sudah ada pada Blogdesk versi 2.7 sehingga satu satunya yg menghalangi seseorang untuk menggunakan blogdesk sebagai blogging tool adalah nasib sial. Nasib Sial terjebak berpetualang menggunakan software blogging lain yg cenderung lebih tidak effisien.

Namun dibalik semua kekurangan barusan, ada juga feature yg menyenangkan, yaitu fitur ‘letter count’ atau penghitung huruf. Fitur ini menghitung total huruf pada sebuah draft posting. Dgn mengetahui total huruf, kita bisa memperkirakan apakah posting kita sudah kepanjangan atau belum.

Perlu diingat, posting yg kepanjangan berpotensi membuat pembaca mati kebosanan. Belajaralah dari kesalahan kami saat menerjemahkan essay Paul Graham, Cities And Ambition. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia, sekarang essay itu memiliki 23117 huruf dan 40 paragraph (apa ngak kojor bacanya).

Update Info : Saat ini sudah 19 hari, 8 jam, 32 detik sy memakai software ini (sambil berselingkuh dengan Scribefire). Dan semakin hari semakin ahli. Ternyata investasi belajar selalu berbuah manis . :)

Tags: , , ,

6 Responses to “What i don't like about blogdesk 2.7”

  1. kucingkeren on September 5th, 2008 5:29 am

    btw.. di skrin sy kok btk font tulisannya beda2 ya ?

  2. trendy on September 5th, 2008 6:57 am

    jadi tau apa itu blogdesk!
    wekekekek
    tambah ilmu!

    trendys last blog post..Bermain Petasan/Percon!

  3. Nenyok on September 5th, 2008 4:09 pm

    Salam
    Daa2nya baru gw denger *maklum gaptek* namanya juga tool, kelebihan dan kekurangan pasti ada kan?, trims nice info..*cari TKP* :)

    Nenyoks last blog post..Ramadhan, Tradisi?

  4. uwiuw on September 5th, 2008 7:49 pm

    masak sih…kamu pake browser apaan :)

  5. uwiuw on September 5th, 2008 8:04 pm

    siiip maksih yah kalau kamu juga udah tau apa kekurangan dan kelebihan blogtool seperti blogdesk maka tolong kasih tau sy

  6. missvio on November 3rd, 2008 9:15 am

    pengen nyoba neh. thx y infonya…

Leave a Reply. Btw, i have right to delete your comment. Sometimes, i need to save my databse space.




Validated by HTML Validator (based on Tidy)