This is an Indonesian translation of John Hagel article: The World Is Spiky.
Catatan : Merupakan terjemahan artikel berbahasa inggris karya John Hagel. Lihat bagian bawah untuk mengetahui URL rujukan dan informasi lanjutan.
Dua orang penulis yg sy (John Hagel) kagumi – Tom Friedman dan Richard Florida – tampaknya saling bersebrangan. Tom dalam buku best seller terbarunya, mengatakan “The World Is Flat” dan Richard dalam artikel terbarunya pada Atlantic, Oktober 2005, mengatakan “The World Is Spiky”. Artikel Richard adalah bahan bacaan yg menarik (dilengkapi dengan Peta visual) dan sy merekomendasikannya. Tom dan Richard pada dasarnya benar, namun mereka berdua tampak kehilangan poin poin terpentingnya.
Dalam bantahannya, Richard fokus pada salah satu kutipan dalam buku Tom : “Dalam dunia yang flat / datar, kamu dapat berinovasi tanpa harus berimigrasi.” Bagi dia, Lokasi tetaplah merupakan sesuatu yg menentukan. Lanjutnya dikarenakan banyaknya pengaturan (ps : contohnya paten), dunia ini terasa amat ‘terpatri / terpaku / terkonsentrasi / terkerucut’. Akibatnya, aktifitas masih terkerucut pada sedikit lokasi.
( Ps : Spiky diambil dari kata spike, yg artinya ‘memaku’ )
Basis sanggahan Richard adalah :
Dengan memanfaatkan metafora topograpi, Richard membagi dunia ke dalam :
Fokus pada definisi ‘peaks’ maka mari garisbawahi makna ‘ dunia yg terkonsentrasi’. Sebagai contoh,
Apabila menyangkut output ekonomi nyata, 10 area metropolitan terbesar amerika serikat itu cuma bisa dibandingkan dengan Amerika serikat sebagai keseluruhan dan Jepang. Ekonomi New York saja sudah sebesar Rusia atau Brasil… New york, Los Angeles, Chicago, dan Boston bila digabungkan maka akan lebih makmur dibandingkan seluruh Cina. Lebih lanjut, andai area metropolitan tsb itu adalah negara, maka mereka termasuk dalam urutan 47 besar dari 100 negara termakmur di dunia.
Namun apakah arti semua itu ? Flat atau spiky ? Datar atau terkonsentrasi ? – Tom atau Richard? Disinilah bisa disadari bahwa debat berdasar terminologi terminologi di atas itu misleading dan mengacaukan esensi yg benar benar penting. Flat atau spiky (Datar atau terkonsentrasi) – keduanya adalah metafora ruang. Lebih pentingnya, keduanya metafora statis. mereka menggambarkan keadaan pada suatu waktu. Baik itu keadaaan dunia yg datar maupun terkonsentrasi. Dan yg hilang adalah adanya ‘arus perubahan’, dinamisnya ekonomi dan inovasi itu sendiri. Dari pada sekedar mempelajari foto, kita seharusnya mempelajari sebagai film yg terus berubah ubah seiring waktu.
Artikel Richard sedikit menawarkan terminologi yg dinamis, terkecuali mengenai perpindahan penduduk. Bukti yg berasal dari artikel tsb adalah jelas : “Dunia menjadi lebih terkonsentrasi. Tahun 1950, hanya 30% populasi dunia yg hidup di daerah urban namun sekarang ini, tampaknya sudah 50%. Dan akan lebih banyak lagi populasi dunia yg terkonsentrasi di kota kota demi mencari kesempatan ekonomi. Kota, sebagaimana selama ini, adalah roda inovasi, pengembangan bakat, peningkatan produktifitas, dan pertumbuhan ekonomi.”
Sementara, kebalikannya, tom menganggap semakin lama kota akan tidak menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, Sy (John Hagel) berbeda pendapat dengan dia. Sy beranggapan : “Bila kamu ingin berinovasi dan kamu tidak berada di urban area, maka sebaiknya kamu berpindah, sekalipun pada dunia yg ‘diasumsikan’ datar. Sekalipun kamu dapat berpartisipasi berinovasi dari lokasi lokasi yg jauh, tetap saja apabila kamu hendak mengembangkan bakatmu lebih cepat dari orang lain, maka kamu akan lebih berpotensi melakukannya apabila berada di area urban utama.”
(ct : dalam konteks indonesia, maka urban area utama adalah jakarta.)
Richard menyatakan poin penting :
Karena Globalisasi meningkatkan inovasi dgn membolehkan produk dan service inovatif bisa langsung berhubung dgn konsumen di seluruh dunia. dgn begitu, globalisasi membantu menguatkan godaan pusat pusat inovasi bagi manusia terbaik dan tercerdas, yg juga membuat terkonsentrasi kekayaan dan produksi ekonomi.
Sehingga, disinilah awal dimana kita melihat permulaan sebuah paradox – sebagian kekuatan yang Tom Friedman dgn fasih gambarkan ‘mendatarkan’ dunia di sana yg sama membantu mengkonsentrasikan / mengkerucutkan dunia.
Namun pertanyaannya menjadi, area urban yg mana yang akan menjadi lahan paling subur bagi inovasi dan pengembangan bakat ? Richard telah menulis dgn menyeluruh mengenai topik ini di The Rise of the Creative Class dan The Flight of the Creative Class. Dalam tulisan ini, dia menjelaskan bakat kreatif mencari lingkungan yang mendorong dan menghargai inovasi. Dia juga menjelaskan bahwa bakat akan bermigrasi ke area area urban yang menyediakan lingkungan yang menjanjikan bagi kreatifitas dan inovasi.
Ada elemen yg hilang dalam artikel Richard. Dalam cara menggambarkan ‘kerucut’ yg muncul dewasa ini, artikel tersebut kehilangan elemen dinamis pengaruh kompetisi antara ‘kerucut’ dan jg penjelasan mengenai seberapa cepat kerucut yg baru akan muncul – tema tema yang berada di bagian awal dan tengah dari bukunya. Karena dunia itu mejadi semakin datar dalam pengertian konektifitas, maka menjadi lebih mudah pengelompokan bakat kreatif yang bersama sama datang dan terkoneksi ke ekonomi global, baik mereka berada di Shenzhen maupun Bangalore.
Sekarang, Berdasar topograpi Richard, Shenzhen dan Bangalore tidak dihitung – mereka cuma sekedar ‘hills / bukit’ dan bukanya kerucut, dikarenakan mereka fokus pada manufaktur dan layanan pendukungnya. Pembedaan ini memperlihatkan batasan lain artikel Richard – dia mendefinisikan inovasi terlalu dangkal sebagai inovasi produk (hal hal yg bisa dipatenkan) atau pun berupa inovasi sains (penghargaan bagi ilmuwan). Shenzen dan Bangalore juga sangat inovatif, namun sejauh ini fokus mereka pada peningkatan secara cepat proses inovasi, sesuatu yang tidak dengan mudah bisa diukur melalui ukurannya Richard. Inovasi kedua kota tsb itu bentuk inovasi berupa peningkatan ekonomi secara menakjubkan melalui periode waktu yang singkat.
Dengan membuang proses peningkatan yg cepat itu, Richard telah kehilangan beberapa kunci dinamis yg telah membentuk kembali pengerucutan pada peta dunia. Perusahaan perusahaan pd area urban seperti Shenzen dan Bangalore berusaha mengejar sebentuk langkah awal (bootstrapping) inovasi yang kuat melalui peningkatan inovasi sederhana dan kemudian dipertegas melalui interaksi dengan ekosistem bisnis lokal. Langkah awal itu sangat kuat dikarena dia mengakselerasi pembelajaran dan membangun kemampuan dan sekaligus menjembatani ke arah inovasi produkdan teknologi yang lebih fundamental, sebagaimana teknologi wireless baik di China dan India. Dengan penggunaan bootstrapping, bahkan ‘bukit’ paling sederhana sekalipun mempunyai kesempatan menjadi puncak yang tak tergoyahkan.
Dalam dunia ini, patent dan jurnal sains mungkin indikator yg ketinggalan untuk dijadikan rujukan. Apa yg kita butuhkan adalah indikator yg lebih pasti yang mana akan membantu dan mengantipisasi pembentukan dinamis ekonomi global.
Most of All, kita butuh melihat melewati snapshotnya – malah, kita harus mempelajari filmnya. Disinilah penghasil kekayaan yang sebenarnya akan bermula. baik Tom dan Richard memahami ini, namun jangan terjebak memframe bahwa perdebatan ini dalam terminologi flat (datar) dan spiky (kerucut). Wawasan terbaik akan datang dari pemahaman paradox yang pendataran dunia itu menghasilkan kesempatan bagi kerucut yang lebih besar.
Tags: Essay, Silicon Valley
7 Responses to “The World Is Spiky”
Leave a Reply. Btw, i have right to delete your comment. Sometimes, i need to save my databse space.
hehehe nyante aja bro..emang topiknya personal banget buat sy :)
sekilas nangkep ada kata bootstrapping. Koq malah jadi inget pilem Pirates of the Carribbean ya :)
hahaha masak sih…tapi bener jg itukan nama bapaknya william turner khan ?
dunia buat sy mengkerucut klo uda tak ramah lg pada penghuninya *loooh????ga kebalik yak??hehehe* ;)
hah ? wah pendapat yg menarik nih…tapi maksudnya ?