Oktober 2006
Pada sebuah sesi tanya jawab baru baru ini, seseorang bertanya apakah penyebab sebuah perusahaan startups itu gagal. Setelah beberapa saat tertegun, sy (Paul Graham) menyadari pertanyaan tsb semacam pertanyaan jebakan. Pertanyaan itu sebanding dengan pertanyaan “apakah yang membuat sebuah perusahaan startups itu berhasil”—Bila kamu mampu menghindari setiap penyebab kegagalan, maka kamu akan berhasil—namun pertanyaan tersebut terlalu meluas untuk seketika itu harus juga dijawab.
Setelahnya sy (Paul Graham) menyadari pertanyaan tsb bisa membantu melihat masalah ini dari sisi lain. Bila kamu mempunyai daftar pantangan, maka kamu bisa mengubahnya menjadi resep sukses dengan cara menghindarinya. Dan dalam prakteknya, daftar pantangan tsb bisa lebih berguna disebabkan lebih mudah menyadari diri melakukan pantangan daripada selalu mengingat apa yang (wajib) harus laksanakan.[1]
Pada dasarnya hanya ada satu kesalahan yang membuat sebuah startups itu bangkrut: “Tidak menciptakan produk yang diinginkan user”. Bila kamu menciptakan sesuatu yang user inginkan, maka kamu akan baik baik saja, baik kamu menghindari pantangan atau tidak. Dan Bila kamu tidak menciptakan sesuatu yang diinginkan user, maka kamu telah gagal, baik kamu menghindari pantangan atau tidak. Jadi sesungguhnya semua poin poin ini sebuah daftar 18 hal yang membuat sebuah startups gagal membuat sesatu yang user inginkan. Hampir semua kesalahan di bawah ini akan bermuara ke sana.
1. Single Founder (Pendiri yang tunggal)
Apakah kamu pernah memperhatikan betapa sedikitnya perusahaan startups sukses yang didirikan hanya oleh satu orang ? Bahkan perusahaan yang kamu kira hanya memiliki satu pendiri, seperti Oracle, biasanya ketahuan mempunya lebih dari satu. Kenyataan tsb tampaknya bukan sekedar kebetulan.
Apakah yang salah dengan hanya mempunyai satu pendiri ? Sebagai awalan, hal tsb pertanda tidak adanya kepercayaan. Pertanda tsb bisa diartikan sang pendiri tidak mempu mengkomunikasikan visinya kepada temannya untuk membangun sebuah perusahaan. Pertanda kegagalan itu cukup jelas, karena teman temannya adalah mereka yang paling mengenalnya.
Bahkan bila ternyata terbukti semua teman teman sang pendiri tsb telah salah menilai dan perusahaannya mulai potensial, dia tetap mempunyai kelemahan. Memulai sebuah perusahaan startups itu terlalu berat bagi satu orang. Bahkan seandainya kamu memang mampu mengerjakan semuanya sendiri, tetap saja kamu butuh teman untuk bertukarpikiran, teman untuk diajak berdiskusi mengenai keputusan keputusan bodoh, dan dia juga bisa jadi teman yang menyemangati saat semuanya berjalan ngaco.
Yang terakhir mungkin merupakan yang paling penting. Titik rendah pada sebuah startups itu bisa begitu rendah sehingga cuma sedikit yang mampu menanggungnya sendiri. Saat kamu mempunyai beberapa pendiri, esprit de corps mengikat mereka bersama. Setiap kepala akan berpikir : “Saya tidak boleh mengecewakan teman sy”. Tekad ini salah satu pendorong yg hebat, dan dorongan tsb tidak tersedia apabila cuma hanya ada satu pendiri.
2. Bad Location (Lokasi Yang Buruk)
Startups tumbuh dan berkemban di suatu daerah namun tidak di daerah lain. Didominasi Silicon Valley , kemudian Boston, Seattle, Austin, Denver, and New York. Setelah itu, cuma ada beberapa kota yang lain. Bahkan di kota New York, jumlah startups per kapita itu mungkin cuma urutan ke 20 bila dibandingkan dengan Silicon Valley. Pada kota seperti Houston dan Chicago dan detroit, jumlahnya bahkan terlalu kecil untuk diukur.
Mengapa perbedaannya begitu tajam ? Mungkin sama juga dengan terjadi pada industri lain. Kota manakah yang menjadi pusat fashion keenam terbesar di Amerika serikat ? Atau pun kota pusat minyak terbesar ke enam ? ataupun kota keuangan, atau pun kota penerbitan ? Apapun bisa saja mereka berbeda jauh dengan urutan teratas, bahkan sampai terasa salah untuk memanggil mereka dengan sebutan “pusat”.
Adalah pertanyaan menarik untuk mengetahui mengapa kota kota tertentu menjad pusat startups, namun bisa saja alasannya sama saja seperti pengkhususan yang terjadi pada industri industri lain: Di kota itu terdapat para ahli yang berkumpul. Standar kota tsb lebih tinggi, masyarakatnya lebih peduli dengan apa yang kamu kerjakan, jenis calon pegawaimu yang kamu sukai tinggal disana, industri industi pendukung pun ada disana,relasi dan kenalan yang kamu kenal di kota itu pun banyak yang satu bisnis denganmu. Siapa yang tau bagaimana faktor faktor tsb saling berkombinasi untuk mendorong kemajuan startups di Silicon Valley dan memarginalkan mereka di Detroit, namun sangatlah jelas pengaruhnya. Perbandingan jumlah startups per kapita di kedua kota tsb telah membuktikannya.
3. Marginal Niche
Kebanyakan kelompok yang mendaftar ke pada Y combinator mengalamai satu permasalahan yg jamak : (mereka) memilih niche yg kecil demi harapan dapat menghindari kompetisi.
Apabila kamu melihat anak anak berolahraga, kamu menyadari pd umur tertentu, mereka takut dengan bola. Saat bola tersebut mendekati mereka, reaksi instring mereka adalah menghindarinya. Sy jarang menangkap bola saat berumur 8 tahun karena setiap kali sy melihatnya terbang ke arah sy, sy langsung menutup mata, menghadapkan glove yg lebih mirip untuk melindungi diri sendiri daripada hendak menangkapnya.
Memilih proyek marginal itu semacam startups yg bersikap layaknya anak 8 tahun berhadapan dengan bola. Bila kamu membuat sesuatu yang bagus, maka kamu akan mempunyai kompetitor, jadi sudah pasti kamu harus menghadapainya. Satu satunya cara untuk menghindari kompetisi ialah dengan menghindari ide yg bagus.
Sy pikir keputusan ini muncul tanpa sadar. Sy pikir ini bukan disebabkan karena mereka memikirkan ide ide hebat melainkan dikarenakan mereka memutuskan mengejar ide yg lebih kecil dikarenakan ide tsb tampaknya lebih aman. Alam bawah sadar bahkan tidak membolehkan mereka memikirkan ide ide yang hebat. Jadi solusi mengatasi hambatan ini, mungkin, dengan memikirkan ide tanpa harus “mengaitkan diri sendiri”. Mungkin pertanyaan brainstroming : “Bukankah akan menjadi ide yang hebat bila ‘orang lain’ mendirikan sebuah startups?”
4. Derivative Idea
Banyak aplikasi perusahaan yg kita kenal dewasa ini adalah imitasi dari perusahaan yg telah ada. Aplikasi aplikasi itu bisa jadi salah satu sumber inspirasi yg bagus, namun bukanlah yg terbaik. Apabila kamu memperhatikan sejarah embrio perusahaan startups yg sukses, cuma sebagian yang dibangun berdasar imitasi startup yg lain. Darimanakah mereka memperoleh ide mereka ? Biasanya dari beberapa permasalahan spesifik yg belum terpecahkan oleh perusahaan penemu pertema masalah tsb.
Perusahaan startups kami menciptakan software untuk membuat toko online. Saat kami memulainya, belum ada satu pun perusahaan yg melakukannya. Jenis online steore yg bisa kamu pesan cuma situs yg dicoding langsung oleh konsultan web. Kami tahu apabila software ini akhirnya jadi maka situs situs tsb akan diproduksi oleh software semata, jadi kami pun membuatnya. Bener bener seketika.
Tampaknya masalah terbaik yang bisa kamu pecahkan ialah masalah yg kamu pribadi hadapi. Perusahaan Apple bermula dikarenakan Steve Wozniak mengingkan sebuah komputer, Google bermula saat Larry dan Sergey tidak dapat menemukan yg mereka butuhkan secara online, Hotmail dikarenakan Saveer Bhatia dan Jack Smith Tidak dapat berkirim email saat sedang bekerja.
Jadi, Daripada mencontek Facebook, dengan beberapa sedikit variasi (yg mana sama sekali tidak dihitung sbg kompetitor oleh Facebook), coba cari inspirasi dari arah yg lain. Jadi, Daripada memulai ide dari masalah perusahaan lain dan kemudian merunut kronologisnya, kamu bisa mencari masalah masalah dan bayangkan bentuk perusahaan yg mungkin membantu memecahkannya. [2] Coba tanyakan Apakah masalah yg sering dikeluhkan orang lain ? Apakah aplikasi atau feature yang kamu inginkan ada pada sebuah aplikasi terkenal ?
5. Obstinacy
Dalam beberapa bidang, kesuksesan itu diraih dengan visi tentang apa yang ingin kamu capai, dan berpegang teguh padanya apapun yg terjadi. Memulai perusahaan startups bukanlah salah satu bidang semacam itu. Pendekatan ‘habis habisan berpegang pada Visi’ itu dapat dipakai pada sesuatu seperti memenangkan medali emas olimpiade, dimana masalahnya telah terdefinisi. Sementara Startups itu lebih mirip science (ilmu pengetahuan), dimana kamu butuh mengikuti jejak kemana pun itu nantinya mengarah.
Jadi, jangan terlalu terikat dengan rencana awal, karena bisa saja keputusan itu salah. Kebanyakan Startups sukses itu berakhir melakukan pekerjaan yg berbeda dengan perencanaan semula—kadang begitu melenceng sampai sampai terlihat seolah bukan lagi perusahaan yg sama. Kamu harus bersiap dengan ide yang lebih baik saat ide tersebut muncul. Dan bagian tersulitnya adalah membuang ide lamamu.
Keterbukaan pada ide baru itu bagus. Namun berganti ide setiap minggu itu bisa fatal. Apakah ada test eksternal yg bisa dipakai ? Salah satunya ialah dengan mempertanyakan apakah ide baru merepresentasikan semacam progress. Bila dalam ide baru tsb kamu dapat menggunakan kebanyakan apa apa yg kamu bangun sebelumnya, maka kamu mungkin sedang progress. Namun apabila setiap kali memulai ide baru, kamu harus membangunnya dari fondasi maka itu pertanda buruk.
Untunglah, ada beberapa orang yg kamu bisa mintai saran : User usermu. Bila kamu berpikir memulai sebuah ide baru maka periksalah pendapat user usermu. Apabila mereka tampak tertarik, maka ide tsb layak dicoba.
6. Hiring Bad Programmers (Mempekerjakan Progremmar yg jelek)
Sy lupa memasukkan poin ini ke dalam versi awal daftar in, karena hampir semua pendiri yang sy kenal itu programmer. Poin ini bukan masalah yg serius bagi mereka. Mereka, mungkin saja, tidak sengaja mempekerjakan programmer yg jelek, namun hal tsb tidak akan menghancurkan perusahaan. (ps : satu kalimat yg tak mampu diterjemakan. See the orignal posting bila kamu tertarik.)
Namun bila sy berpikir soal penyebab paling sering yg menghancurkan sebagian besar startups dalam bisnis e-commerce di tahun 90an, maka itu adalah programmer yg jelek. Banyak perusahaan semacam itu yg dibangun oleh orang orang bertipe bisnis yang berpikir perusahaan startups itu dapat berhasil bila tersedia ide bagus dan kemudian mempekerjakan programmer untuk mewujudkanya. Sebenarnya, hal tsb mudah diucapkan namun susah dilakukan—Sejujurnya hampir mustahil bila skemanya seperti itu—karena orang orang bisnis tidak dapat membedakan mana programmer bagus dan jelek. Mereka bahkan tidak dapat menebaknya, karena tidak ada seorang programmer yg bener bener bagus yg ingin mengerjakan visi seseorang bertipe bisnis.
Pada prakteknya, orang orang bertife bisnis akan memilih orang orang yg mereka pikir programmer yg bagus (katakanlah yg memiliki resume Microsoft Certified Developer; namun siapa yg tidak punya ?) . Mereka pun bingung melihat bagaimana perusahaan startups mereka terbang susah payah seperti pesawat pembom perang dunia ke dua sementara kompetitor mereka melaj layaknya jet tempur. Startups semacam ini itu layaknya seperti perusahaan IT yang besar, namun tanpa kelebihan apapun atasnya.
Jadi bagaimana kamu memilih programmer yang bagus bila kamu bukan seorang programmer ? Sy tidak berpikir akan ada jawabannya. Tadinya sy hendak menyarankan kamu bisa meminta bantuan seseorang programmer yg bagus untuk mempekerjakan programmr yg bagus. Namun bila kamu tidak dapat mengenali programmer yg bagus, bagaimana kamu dapat melakukannya ?
Survey Redaksi : Apakah posting ini terlalu berat dan berbau IT ? Sy sedang survey sekaligus belajar menulis topik semacam ini sambil berusaha membuatnya tetep informatif bagi semua orang. Cara menjawab paling sederhana adalah dgn memberitahu sy pd paragraph berapa kamu mulai bosan dan melompat ke bagian box komentar....plus penjelasan singkat kalau bisa.... :)
Aku adalah binatang sundal
Dari kumpulannya jualan sandal
Walau utang mengejarngejarku
Tetap takkan kugadaikan keperjakaanku
Aku akan ganteng seribu tahun lagi


June 18th, 2008 00:11
Nice posting.
Saya juga ingin buat tulisan seperti itu…tapi dari sisi lain. Duhh masih dikejar dead line…..
uwiuw reply on June 19th, 2008 3:07 pm:
didoain bu, krn entah mengapa kalau ibu yg nulis, ekspektasi sy besar hehehe krn biasanya jadi artikel bermutu kalau ibu yg nulis
June 18th, 2008 08:17
mmmm, sampe skrg gue msh berpikir bhw mendirikan usaha itu lebih baik sendiri ketimbang rame2x. Kalo rame2x koq keliatannya malah ujung2xnya ga rukun dan sibuk membela kepentingannya sendiri. Terlebih kalo dr awal kita berangkat dr garis start yg berbeda.
just an opinion
uwiuw reply on June 19th, 2008 3:09 pm:
iya, setuju!. Sebenarnya pd artikel berbahsa inggris posting ini ada bagian yg menjelaskan ‘perkelahian para pendiri’ namun sampai detik ini belum terselesaikan….jadi untuk lebih terangnya, coba baca aja langsung dari artikel aslinya…linknya ada di bagian source
July 31st, 2008 17:19
[...] saat ini sy belum juga meneruskan terjemahan The 18 Mistakes That Kill Startups (6 from 18), Salah satu essay terbaik Paul Graham. Baru enam dari 18 point yg baru dibahas. so, proses [...]