18 October
Memang terkadang cara kerja sesama web designer itu berbeda. Namun pada dasarnya, cara mendesain web terbaik itu bergantung pada audience website dan tujuan website itu sendiri. Hal ini memang tidak akan dijelaskan dalam posting ini.
Namun pada intinya, tidak ada cara mudah mendesain website. Apalagi bila diharuskan berhadapan dengan browser compability. Oleh kerenanya, designer harus belajar menemukan metode web desain teraman. Nantinya metode itu jadi panduan umum, baik mendesain web, mendesain blog, ataupun mendesain aplikasi. Artikel webdesigner berikut mencoba menjelaskan beberapa pendekatan web-design berdasar tingkat kompabilitas desain dengan browser atau software penjelajah internet..
Desain Website Bagi Semua Browser
Sebagian kecil web designer memegang dogma web ideal dimana desain situs harus bisa diakses semua browser tanpa kecuali. Untuk mencapai standar ideal tsb, webdesigner harus memastikan layout halaman yg didesain bekerja sempurna pada setiap browser, termasuk lynx, webtv, firefox, opera, netscape, dan lainnya. Layout Template website tsb juga harus bekerja sempurna pada versi minor browser tsb (yg kadang kadang memiliki metode parsing HTML yg berbeda dengan anak anak versi mayor / minor lainnya).
Btw, dulu sy termasuk webdesigner yg berharap web yg didesain nantinya bisa tampil sempurna dengan tanda kutip ‘perfecksionis’ besar besar. . Karena saat itu, menggapai standar ideal adalah tantangan terbesar webdesigner. Websites wajib bisa diakses pengunjung tanpa halangan browser. Tapi untung itu dulu, saat masih jetleg karena baru pindah dari desktop programming ke web programming.
Sekarang Standar ideal desain tsb tidak lagi mutlak. Tidak perlu memaksakan diri mewujudkan cetak biru desain website apabila klien tidak menginginkannya. Terlebih lagi, ada keputusan penting berada di luar kendali webdesigner yg bisa mempengaruhi output akhir, seperti release terbaru browser.
Terbayangkan seandainya perusahaan firefox merelease versi baru, maka kita pun harus mendesain ulang (redesain) website agar sesuai dengan bagaimana versi baru tsb memparsing kode html situs sambil tetap berusaha membuat layout situs compatible. Wow, melihat panjanganya masa desain, testing, dan developing web, bisa dikatakan kalau pembuatan website telah berubah menjadi website developing derita yang mirip perumpamaan menguras air laut dengan gayung mandi. Website Developing menghabiskan terlalu banyak waktu, tenaga, dan akal sehat jadi lebih baik dihentikan sebelum semua orang yg berhubungan dalam pembuatan websites menjadi gila hahaha..
Seandainya (masih) ada manusia yg berniat menjadi designer web jenis ini maka ada baiknya pemakaian teknologi web sekunder seperti javascript, java, CSS, dan DHTML sedikit dikurangi. Ada baiknya ketergantungan terhadap teknologi selain HTML dikurangi karena selain bukan kunci sukses komunikasi dunia maya, penggunaan Bahasa Scripting non HTML adalah penyumbang terbesar masalah kompabilitas (terutama saat perusahaan seperti firefox melakukan release versi baru).
Ingat prinsip ini, tidak semua browsers mempu bekerja dengan kode javascript, CSS, Ajax, dll. Namun seluruh browsers mau tidak mau harus bisa baca (parsing) HTML. Karena kalau tidak bisa, maka bukan browsers lagi namanya melainkan gayung mandi air laut hehehe
Untuk Memahami (sedikit) mengenai Browsers, kamu bisa membaca artikel webdesign ini
Desain Website Bagi Versi Terbaru
Kumpulan minoritas designer lain memiliki konsep gaya desain yg berbeda. Mereka mendesain layout website yg cuma akan tampil sempurna pada versi terkini browser populer. Mereka juga tidak terlalu mementingkan performa. Pernyataan sponsor “Tolong upgrade ke XXX version” atau ” websites ini didesain untuk browser Firefox versi XXX” dan bukannya buat Opera dan kawan kawan. Biasanya pesan sponsor akan diletakkan di bagian footer layout websites. Pesan itu berfungsi sebagai pemberitahuan kepada user soal status versi (juga bentuk pembelaan diri karena tidak sempat sepenuhnya mendesain layout template sesuai dengan variasi browsers)
PS : Kadang ada designer yg mendesain layout websites hanya bagi satu browsers popular dengan versi terkini semata. Jadi dia sudah membuang keharusan mendesain dan mengetes tampilan website dengan browsers version sebelum sebelumnya. Pendekatan ini cuma bisa dipakai saat mendesain website yg hanya bekerja di jaringan intranet perusahaan dan bukannya internet. Karena lingkungan intranet itu membolehkan kita mrngkalkulasi secara pasti jenis serta versi browsers yg nantinya dipakai.
Untuk Memahami (sedikit) mengenai Nasib Webdesigner, kamu bisa membaca artikel Webdesigner ini
Desain Website Sesuai Degradasi Elemen
Metode desain yg paling umum dipakai dalam pembuatan situs. Halaman situs didesain “secara berkala mengalami penurunan detail, kualitas, serta tingkat kerumitan teknologi”. Metode ini mengkombinasikan teknologi terbaru pembuatan situs semacam AJAX, DHTML, serta Javascript. Akan tetapi metode diimplementasikan dengan cara dimana halaman website tetap dipertahankan untuk berfungsi penuh pada browsers jadul.
Salah satu strategi mendesain halaman situs adalah memanfaatkan kelebihan teknologi yang telah disupport atau didukung sebelumnya. Trik utamanya adalah mencoding dimana saat desain ditampilkan pada browsers website yg lebih jadul, tua, dan sederhana, halaman website tsb tetap tampil oke. Contoh,
- Caranya dengan selalu menambahkan atribut teks alternatif (atribut ALT) sehingga halaman website tetap tampil fungsional bagi pengguna Lynx.
- Saat Menggunakan table atau tabel, maka susun tabel tsb sehingga masih dapat dibaca seandainya ditampilkan pada browser berbasis teks
Dengan memahami bagaimana elemen situs mengalami degradasi, kamu dapat menyusun halaman situs yang akan tetap tampil fantastis pada browser terkini. Halaman situs tsb juga tidak akan mengusir pengunjung website yg menggunakan versi jadul browser
Desain Website Bagi Semua Orang
Pendekatan desain lain, yg cukup sukses, adalah membuat bermacam versi situs yg didesain demi kebutuhan bermacam tingkat user. Satu versi situs bisa bekerja dengan javascript. Sementara yang lain, berupa solid HTML 3.0 namun tanpa elemen aksesoris lain. Kemudian Dibuat juga versi text-only yg diperuntukkan bagi para pengguna Lynx, browser nonvisual, dan browser sederhana lainnay. Seandainya kamu banyak waktu luang, maka kamu bisa membuat versi situs flash. Namun pada dasarnya, 2 versi situs saja sudah lebih dari cukup.
Pengembangan metode pendekatan ini adalah dengan memasukkan snippet kode pengecek jenis versi browser yg dipakai pengunjung websites. Kemudian seandainya info tsb sudah didapat, maka server akan menampilkan halaman situs yg sesuai browser pemanggilan HTTP request. Tentu saja metode ini membutuhkan lebih menyita waktu dan juga pengetahuan teknis coding lumayan, namun layak untuk ditempuh seandainya kamu ingin pengalaman pengunjung optimal disebabka hasil desain terbaik.
Untuk Menambah (sedikit) Pengalaman mendesain blog, kamu bisa membaca artikel webdesign ini
Penutup
Posting bakawan ini terinpirasi Web Design in a Nutshell karya Jennifer Niederst, sebuah buku webdesign jadul yg sy suka baca sampai sekarang. Buku web desain ini pernah sy review sebelumnya. Semoga tulisan webdesigner nakal yg belajar desain lagi ini cukup membantu siapapun yg hendak belajar web desain. Kami memiliki beberapa tulisan maut seputar desain web. Memang bukan petunjuk praktis atau artikel howto, melainkan posting teori desain web yg malah bisa bikin puyeng. Namun sekalipun cuma sekedar teori desain, kami rasa akan membantu seandainya latar-belakang pembaca itu seorang webdesigner otodidak yg senang bereksperimen dengan daya tahan kepala sendiri..
Survey Redaksi : Apakah posting ini terlalu berbau IT ? Sy sedang survey sekaligus belajar menulis topik IT yg disajikan ringan bersahaja. Apakah sy sudah berhasil ?
Blogku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Blogku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
[Chairil Anwar, Rumahku]
Related Posting
- Apakah Kamu menggunakan Browser Terbaru ?
- Mengapa Bisa terjadi Browser Compatibility ?
- Nasib Web Designer Teraniaya Google Chrome
- HTTP Referer
- Tantangan Terbesar Web Designer
Next & Previous
- Next : Little or No Original Content
- Previous : Blogspot Blog Dummy Kami Dikira Spamblog
Did you find what you need ? Use our free searchbox to found what you're looking for.
Internal Search
Eksternal Google Search
Bookmark Us
5 Artikel Terbaru
Tag Artikel
Intinya Cara Mendesain Web, Teori Web Desain, dan Dunia Kerja Web Designer secara umum
Berisi Masalah dan Tips Trik Webmaster. Kualitas tulisan masih sederhana seiring pertumbuhan pengetahuan kami.
Komentar Terbaru




18 October
[Reply]
[Reply]
20 October
Wow… nambahin ah….
Tolong dong dibahas mengenai Konqueror, kan dia adalah browser yang bs di ganti-ganti nama user agent nya. nah Loh! tambah puyeng kan !!! Apalagi kalo web yang kita desain membutuhkan security yang engga’ maen-maen. kalo aku sih sementara ini aku pastiin dulu browser yang boleh ngebuka web yang aku desain. Minimal browser-browser yang sudah banyak dikenal oleh pengguna awam. Untuk browser-browser yang engga’ dikenal, aku sengaja ngga’ kasih akses. Resiko broth!!! Belum lagi browser-browser yang ada di mobile device… eleh-eleh…. capeknya setengah mati! Belum lagi kita harus ngecek apakah javascriptnya di enable atau engga’, begitu juga cookies nya…. wah wah wah….
[Reply]
iya kemarin sy juga dapat masalah ini saat google chrown baru aja lauching. Sy melihat ada browser dgn user agent yg agak aneh di laporan traffik sy. Dikiraain bot ternyata itu kode mesin google chrome. Shitman! ketipu sy.
iya kadang sy juga dapat masalah dengan browser mobile. ukuran layr mereka yg kecil itu loh. Membuat kita ngak bisa apa apa dan mengusahakan menghindari lebar yg fixed. Soal javascript…hmm kalau sy mah menghindari ajs karena bad for SEO.
[Reply]