inflasi. Setiap kali mendengar kata ini, sy teringat wejangan ryan : “Jangan menabung di bank. Lebih baik modal itu diputar lagi. Misalnya bikin usaha e commerece baru. Pokoknya investasikan dan jangan ditabung. Bila kamu tabung maka akan rugi karena nilai uangmu akan digerus sama inflasi.”
Dalam konteks menabung, inflasi adalah momok yg menyebabkan nilai uangmu akan berkurang nilainya dibanding nilainya saat pertama kali memiliki uang tsb. Lebih lanjut Ryan menambahkan : “Bukankah dulu, uang lima juta di bank itu udah gede sekali, tapi sekarang apakah kamu akan merasa aman bila cuma punya tabungan sebesar lima juta…sy rasa tidak.” Dengan getir sy menjawab : “Bayar anak registrasi sekolah di SD aja udah ngak cukup“.
Pembicaan kami di malam buta di Dago Plaza Bandung itu mengganguku. Wejangan dia telah mengusik pemahamanku dan menggangu pelajaran investasi yg baru saja sy dapatkan dari edison, owner blog investasi janganserakah.com.
Apa yg sy mengerti tentang pentingnya menabung itu sesuai dengan isi review sy tentang janganserakah.com. Sy meyakini “ngak semua investor membenci menabung layaknya buku Rich Dad Poor Dad.” sy meyakini menabung bukan investasi yg buruk.
Namun sekarang, berkat Ryan, pemahaman dan keyakinan sy tentang menabung kembali ke titik awal, dimana sy berada antara yakin dan ragu apakah bijak menyimpan uang di bank. Dan judul di atas baru aja menjadi salah satu pertanyaan tak terjawab dalam hidup…huhuhuh sok filosofis, euy!


Paradoks lainnya adalah waris. Disebabkan cepatnya perubahan, kamu tidak mungkin mewariskan skill codingmu karena pada saat mereka tumbuh akan muncul teknologi baru. So pengetahuanmu soal visual basic, C, Java, atau mungkin AJAX dan PHP akan ngak berguna bagi mereka. ah, kebanyakan berandaiandai. Tapi satu yg bisa diyakini. Hal terbaik yg bisa diwariskan adalah kemampuan beradaptasi dengan situasi layaknya kecoak, yg kena bom nuklir aja belum tentu mati

