Sudah hampir seminggu aku berada di rumah. dan saat ini perasaanku berada pada titik terkesal yang kudapat ingat semenjak berbulan-bulan yang lalu [semenjak aku memutuskan pergi nge-kost]. Semakin sering aku berinteraksi dengan anggota keluargaku, semakin sering aku tersulut emosi…dan mendapati diriku aral.
Di rumah, Selalu saja ada yang bisa menyulut emosi, dan saking emosinya membuatku tidak mampu menatap muka atau berkata-kata bahkan membalas…seperti ada yang meledak dalam dadaku…semosi tersulut dendam lama dan perasaan dikhianati [atau kombinasinya... dari sebegitu banyak hal didunia ini, satu hal yang paling tidak bisa kuterima adalah penghianatan.]
Saat ini aku marah. Saat ini saat aku diharuskan menurunkan komputerku dari atas meja makan karena bisa2 merusak kulkas…apa hubungannya ? aku tidak dapat melihat hubungan antara kulkas dgn meja makan ? setan! aku menyadari memang sejak dulu ini bukan rumah. Kalau tinggal di lantai 2 pasti aja berkelahi dengan si ardi, adikku. Sementara bila berada di lantai bawah, aku harus bertemu ibuku yang mengomel dan selalu sok tahu, sok mengendalikan…atau adik cewekku [yang sejujurnya lebih oportunis tak berperasaan dari pada aku] - saat aku tergeletak sakit dengan cerianya dia berkata : “wah motornya ngangur donk!”
aku masih ingat saat pertama kali membawa komputerku pulang ke rumah demi adik cewekku yang hendak menulis skripsi. komputer itu tiba dalam keadaan rusak…saat sedang membetulkan komputer itu, ibuku terus mengoceh seperti “mungkin listriknya ? mungkin monitornya kepanasan? mungkin kipasnya?”aduh mak kalau ngak bisa bedain mana komputer mana kulkas jangan sok tau deh..krn setiap komentar itu bukannya membuat situasinya lebih mudah. Namun bila dijelaskan maka seperti mendapat angin, komentarnya pun semakin absurb tidak masuk akal seolah ngajak berantem cekcok mulut..tidak tau komputer tapi serasa paling ngerti..ah prank!
Bagaiamana menghadapi komentar seseorang yang sok tau, yang seneng kalau kita mengatakan dia itu sok tau…seolah semangatnya semakin membara saat mengetahui kita kesal, seolah dia vampir yang hidup dari emosi orang lain. Jadi, bagaimana cara mengatasinya ?
Aku akan mengucapkan “iya…iya..terserah..bukan urusan sy…” pasti kalau begitu dia diam krn ngak dapat angin. wah ini ide brilyan tapi mengapa rasanya pernah dilakukan dan hasilnya gagal apakah dikarenakan kesalahanku sendiri ?
sejak percekcokan ini, aku berjanji bila aku sudah punya uang aku tidak ingin kembali-kembali lagi…tempat ini bener-bener kuburan, di tempat ini aku tidak bisa bermimpi, menyusun rencana, dan mengeksekusinya….tempat ini seperti parasit bagi harapan-harapanku
bagaimana cara selamat dari tempat ini ? kumpulkan uang sebanyak mungkin, pergi sejauh mungkin, dan jangan kembali kecuali ada yang meninggal maupun lebaran atau [mungkin] kamu sendiri menjadi lebih bijak uwiuw dan bisa beradaptasi seperti ayahku yang bisa hidup dengan orang2 berego tinggi seperti aku, ibuku, adik-adikku tapi tetap tanpa harus menjadi sotoy [sotoy ayahku parah jg]
bila berada di rumah, aku menyadari betapa sakit dan kesepiannya diriku
ps: jangan salah semua ini ditulis dengan cinta, se-twisted apapun cinta itu
Survey Redaksi : Apakah posting ini terlalu berat dan berbau IT ? Sy sedang survey sekaligus belajar menulis topik semacam ini sambil berusaha membuatnya tetep informatif bagi semua orang. Cara menjawab paling sederhana adalah dgn memberitahu sy pd paragraph berapa kamu mulai bosan dan melompat ke bagian box komentar....plus penjelasan singkat kalau bisa.... :)
Aku adalah binatang sundal
Dari kumpulannya jualan sandal
Walau utang mengejarngejarku
Tetap takkan kugadaikan keperjakaanku
Aku akan ganteng seribu tahun lagi

