Home | i'm sorry we forgot easily | Web Design and Wordpress Custom

 

Efek Sosio Kultur Internet : Facebook

Satu lagi artikel mengenai gaya hidup digital. Kali ini Artikel lifestyle abad 21 berisi pergeseran sosio kultur yg sedang terjadi di Amerika Serikat. Pergeseran ini dipengaruhi pertumbuhan situs social network dan pengaruh mereka terhadapa nilai nilai keluarga. Artikel ini mencoba mendalami situasi dimana seorang anggota menghabiskan waktu main internet (terutama pada situs social network seperti myspace, facebook, dan friendster).

Zaman Tukang Internet

Oh, iya inspirasi posting ini ialah 2 orang teman offline sesama programmer dan designer, yaitu si anu dan si fulan (oke it’s anonymous). I like it. it’s not personal. Si anu itu seorang programmer dan si fulan itu seorang photoshop expert.

Si anu harus membeli rumah kedua yg jauh dari rumah tempat anak dan istri dia tinggal karena dia perlu tempat kerja yg tenang. Rumah yg baru dibelinya itu masih berada di kota yg sama di kota bandung, yg kemudian malah menjadi menarik karena menunjukkan (bagaimana) sekali pun sudah menikah bertahun tahun, sifat programmer yg solitude itu tidak bisa dimengerti istri, anak, dan diri dia sendiri. Otomatis, dia mencari tempat begadang berhari hari agar bisa kerja maraton mengejar deadline tanpa terganggu rutinitas sebagai ayah.

Kedua adalah si fulan, yg bekerja sebagai designer spesialis retouch dan foto wedding. Hidup dia sangat tergantung pd baik dan buruknya koneksi internet. Bila koneksi sedang bagus, maka upload design dan foto retouch bisa sampai ke email klien tanpa tertunda. Oke hal ini cuma masalah biasa (setidaknya bagi sy hehehe), kecuali pada bagian dimana dia mengatakan upload/download/attachment/teleconference itu bukan cara bekerja yg dia bayangkan saat muda dulu (merujuk masa kuliah). Bisa dikatakan, hari ini dia seolah hidup di masa depan yg tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Efek Sosio Kultur Internet

Dulu internet itu sangat esklusif dan hanya bisa dinikmati segelintir orang. Namun hari ini, internet sudah bisa dinikmati hampir semudah menikmati aliran listrik. Jadi, apa efek sosio kultur internet bagi siapa pun dimana pun tanpa kecuali ? Apalagi internet sudah memasuki sisi dunia paling kecil, yaitu keluarga. Kira kira bagaimana reaksi kita bila muncul ketegangan dan perasaan terabaikan anggota keluarga lain saat kita tenggelam di dalam world wide web.

Sekali lagi, thank you internet, banyak orang (terutama warga amerika yg menjadi objek penelitian) melaporkan kalau mereka mengalami erosi kualitas pertemuan face to face dgn sesama anggota keluarga. Erosi ini efek yg disebabkan salah satu anggota, baik istri, anak, maupun suami. Efek erosi ini menimbulkan perasaan terabaikan dan munculnya kekhawatiran kalau anak anak menghabiskan waktu online terlalu lama

Oh iya, kesimpulan di atas diambil dari salah satu penelitian yg dilakukan lembaga survey Digital Future Center di USC Annenberg School For Communication. Isi penelitian sosio kultural internet ini menunjukkan.

  1. Presentase orang yg mengaku (sejak mulai main internet) menghabiskan waktu keluarga lebih singkat itu meningkat 3 kali lipat dari 11 persen di tahun 2006 menjadi 28 persen di tahun 2008.
  2. Tren Total waktu keluarga itu menurun tajam 3 tahun terakhir
  3. (minimalnya sesekali) Perasaan diabaikan oleh anggota keluarga yg sedang berinternet meningkat 40 persen pd kurun waktu 3 tahun terakhir.

Michael Gilbert, penulis The Disposable Male, mengatakan kalau waktu keluarga yg hilang itu seiring dengan pertumbuhan ekponentsial situs jejaring sosial seperti facebook, myspace, dan bagaimana peran teman offline itu tergeser peran teman online. Ujung ujungnya, komunikasi langsung tergantikan komunikasi tidak langsung via online media. Trend ini mula mula dilaporkan pada survey 2007 yg dilakukan lembaga survey yg sama.

Pola internet mengurangi momen keluarga terjadi pada berbagai kategori demografis. Umumnya, keluarga yg memiliki penghasilan di atas rata rata itu mengalami erosi waktu yg lebih besar. 35% Keluarga menengah keatas melaporkan pengurangan komunikasi empat mata. Selain itu, berasar laporan gender, wanita itu paling sering merasa jablay (jarang dibelai dan rutin diabaikan).

Internet Hari Ini

Abad 21 itu zaman yg benar benar lain. Hampir tidak ada memori kolektif peninggalan orang tua kita dulu yg mempersiapkan kita di era baru ini. Bila ingin dibikin puitis, maka bisa dikatakan “kita adalah Generasi digital pertama

Terima kasih pada internet, banyak orang yg bisa bekerja online. Ambil contoh, web designer dan pekerja web lainnya. Jenis pekerjaan ini baru muncul 20 tahun terakhir. Dan sepenuhnya, pekerjaan ini tergantung pada internet. Karenanya, pengaruh internet bagi hubungan antara anggota keluarga itu topik penting (bagi sy). Efek samping tiap pengaruh internet akan langsung mempengaruhi saya dan orang orang di sekitar.

Mengutip Gilbert (dgn bahasa sendiri hehehe), keluarga itu adalah rangka beton fondasi masyarakat. Kita harus menjaga kesehatannya saat menjalani masa depan digital yg infinite. Oleh karenanya, sy sarankan setiap orang memiliki gaya digital yg lebih sehat.

Subyek utama saran ini adalah kawan kawan sy sendiri. Agar tidak ada yg lembur begadang tengah malam di studio…kasian kan anak istri heheheh. Dan ngak ada mahluk internet apapun yg ada di kantor hari minggu. Hus! Hus! pada pulang sana! Bairkan mereka yg lajang saja hahahahaha

Referensi Sosio Kultur Lain

  1. Penelitian Realita TV bagi Pengguna Facebook : Survey ini menunjukkan pattern psikologi kalau orang yg suka menonton acara tv realita itu lebih terbuka saat memakai situs jejaring sosial. Hmm memang bukan introduksi yg bagus pada popular pop yg lagi ngepop. Facebook itu buzzzing lebih nyaring dari apapun di candamuka internet indonesia.
  2. Masa Depan Koran Online : Koran koran yg memiliki website itu sedang menggali kubur sendiri. Mereka akan bernasib seperti kebanyakan koran di luar negeri. Oplah turun dan mereka pun bangkrut. Sy sangat menunggu momen ini untuk semakin meyakinkan diri kalau masa depan jurnalisme itu twitter.

Hohoho capek bro, makasih bagi yg udah komment dan sy pasti balas kok. Cuma jangan sekarang hahahah i’m not here. I’m socially dead.

Tags: , ,

17 Responses to “Efek Sosio Kultur Internet : Facebook”

  1. d3ptzz on June 25th, 2009 6:37 am

    terimakasih internet…:D

    telah memberikan 'kehidupan' kepada saya..

  2. masarif on June 26th, 2009 6:53 am

    sesama bagaiamanakah indonesia dengan negara sono pada kondisi yang sama? BUkankah koran yang memiliki web barusaja mengawali pestanya hari ini?

  3. Uchan on June 29th, 2009 8:38 am

    Internet memang mengubah semua orang, harfiahnya jadi orang2 anti-sosial di dunia nyata.

    Tapi untuk kasus di Indonesia, cerita2 miris ini masih terlalu jauh (saya suka istilah erosi pertemuan). Masih sekitar 9% orang (detik) yang make internet ini.

    Mudah2an bisa jadi wacanan baru bentuk pisau bermata dua dari mahluk bernama internet ini

  4. ganda on July 1st, 2009 9:37 am

    Gimana dengan anak kost seperti saya ini? Yang gak jelas juntrungannya? hehehehe… jelas saya menghabiskan waktu saya lebih banyak dengan internet dari pada orang tua saya. dan teman2 saya yang lain. Online jam 9 sampai jam 6 sore. :D

  5. kenji on July 8th, 2009 5:13 pm

    berkat situs jejaring kayak itu jugalah dua temen saya yang hopeless ga ada harapan akhirnya bisa menemukan jodohnya.

  6. nomercy on July 12th, 2009 1:46 pm

    ada beberaoa pendapat para pakar sosnet yang mengatakan memang gaya twitter adalah yang terbaik … terlepas dari subyektifitas pendapat tersebut, saya menganggapnya benar … kalau untuk sosnet dengan twitter sudah cukup kenapa harus facebook? … kalau web 2.0 juga adalah twitter lalu kenapa harus facebook? … apa yang ditawarkan oleh facebook lebih daripada gemerlapnya dunia digital … sedangkan twitter dan sejenisnya adalah sosnet murni dengan core yang ringan dan berlaku untuk semua kegiatan … sayangnya memang mungkin orang lebih menyukai dari sisi interface yang ge,erlap terlebih dahulu daripada fungsionalitas dan manfaat utamanya …

    /* mas Aulia, apakah dikarenakan blog ini pakai bad behavior maka saya tidak dapat mengakses secara direct dari ip saya ya? (protes mode = on) */

  7. zenteguh on July 14th, 2009 9:51 am

    semoga internet gak bikin saya poligami hehehe…(biarpun godaan terus datang)

  8. penyakit jantung on July 18th, 2009 1:05 am

    Internet mempunyai dua sisi…
    Sisi positif dan negatif, tinggal bagaimana kita menyikapinya :)

  9. don on October 20th, 2009 4:56 am

    Tulisannya sebenarnya mangtabs-2 neg mas Aulia, tapi kok belum ada update lagi.

    Saya tunggu lho, posting barunya, semoga tetap semangat nge-blog!

  10. Gee on November 11th, 2009 6:10 pm

    Dan .. Istri ane pun ngeluh .. "pagi malam di kantor, masih lanjut lagi internetan di rumah" .. tapi mu gimana lagi, bukan sekedar kebiasaan, tapi lebih pada kebutuhan kali yah ..

    Yang penting ngga lupa sama Tuhan dan tentu tetap meluangkan waktu yang sedikit (dikurangi sedikit) untuk keluarga ..

    Great post .. Thanks ..

  11. btbdotcom on November 15th, 2009 7:20 pm

    Wah kelak semua orang lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer.

  12. limbate on November 30th, 2009 7:23 pm

    baru masuk ke glog ini ternyata sangat baik untuk di ikuti

  13. ngulik on January 1st, 2010 5:23 pm

    artikel di blog ini rasanya kaya baca makalah, lengkap dengan referensi analisa masalah. keren.

    Soal kultur internet bener banget tuh, zaman sekarang kyanya posisi telp/hp (yang dulu dianggap barang mewah) cuma jadi fasilitas untuk internetan. Beberapa orang memilih untuk menyampaikan sesuatu dengan sosiall network daripada sms. Karena lebih murah :)

  14. annosmile on January 5th, 2010 10:57 pm

    lama gak berkunjung ke sini
    met tahun baru 2010 bro
    kapan update nih

  15. samsul on January 17th, 2010 3:16 am

    maaf numpang tanya. gimana sich caranya ngasih link di blog tapi ada warnanya, semacam back rgound lah yang kayak punya bos?
    kirimin dunk ke email saya. maaf ngerepotin

Leave a Reply. Btw, i have right to delete your comment. Sometimes, i need to save my databse space.




Validated by HTML Validator (based on Tidy)
  1. Pages