1. Home
  2. Faq
  3. Glossary
  4. Redaksi

 

Cities And Ambition

Mau langganan
blog Kami?



Mei 2008

Kota besar menggoda orang orang yg ambisius. Kamu dapat merasakannya sepenuhnya saat berada di sana. Melalui ribuan cara nan apik, kota akan mengirimkan sebuah pesan ambisius : Kamu bisa lebih; kami harus berusaha lebih keras.

Dan sisi yg mengejutkan adalah betapa pesan tsb bisa berbeda beda. New York akan mengatakan padamu, diatas segalanya, hasilkanlah lebih banyak uang. Tentu saja, ada pesan lain : bersenangsenanglah. Kamu harus lebih ‘jetset’. Akan tetapi, tetap saja, pesan yang paling jelas ialah jadilah kaya raya.

Hal yg sy(Paul Graham) suka dari boston (ataupun Cambridge) ialah pesan kota kota tsb : Jadilah lebih pintar. Belajarlah sungguh sungguh dan bacalah semua buku buku itu agar kamu jadi pintar.

Saat kamu bertanya pesan apakah sebuah kota kirim, kadang kamu memperoleh jawaban yg mengejutkan. Sekali pun di silicon valley, dimana penghormatan terhadap kecerdasan itu tinggi namun pesan yg kota itu kirim adalah “Kamu seharusnya lebih powerful / berkuasa”.

Pesan ‘berkuasa’ silicon valley tidak sama dengan pesan sejenis yg dipancarkan New York. Tentu saja, power juga sesuatu yg penting di New York. Namun di New York, orang disana masih bisa terkagumkagum dengan uang jutaan dollar sekalipun seseorang memperolehnya dari warisan orang tua (dan tidak menghasilkannya sendiri). Bila di Silicon Valley, tidak seorang pun akan menganggap orang itu ’somebodykecuali beberapa agen real estate. Hal yg penting di Silicon valley adalah berapa besar pengaruhmu pada dunia. Alasan mengapa orang sekitar sana mengagumi Larry dan Sergey bukan disebabkan total kekayaan mereka melainkan kenyataan bahwa mereka berdua mengkontrol google, yg mana telah berubah menjadi sebuah perusahaan yang mempengaruhi (hidup) semua orang.

_____

Berapa pentingkah pesan yang dipancarkan sebuah kota ? Secara empiris, jawabannya bisa beragam. Kamu bisa saja berpikir bila kamu punya cukup ‘kecerdasan’ maka kamu akan dapat merubah lingkunganmu. Kamu bisa beranggapan lingkungan tempatmu berasal hanya sedikit berpengaruh pada kesuksesanmu. Namun bila melihat bukti bukti sejarah, pengaruh lingkungan lebih dari cuma segitu. Kebanyakan orang2 yang melakukan pencapaian luar biasa terkumpul di beberapa lokasi dimana pada pencapaian tsb bisa diwujudkan (dan bukannya di bagian dunia yang lain).

Kamu dapat betapa besar pengaruh kota kota yg hebat dari artikel yg sebelumnya sy tulis sebelumnya: Kasus Milanese Leonardo. Praktis pada abad lima belas, pelukis italia pernah mendengar soal kota Florance, sekalipun kota Milan juga sama besarnya. Orang orang dari florance tidaklah secara genetis berbeda, jadi bisa diasumsikan seseorang yg lahir di Milan akan mempunyai bakat alamiah seperti Leonardo. Lalu apa yg terjadi pada dia ?

Bila seseorang dengan bakat alamiah seperti Leonardo tidak dapat menaklukkan pengaruh lingkungan, jadi apakah kamu beranggapan kamu bisa ?

Sy tidak. Sejujurnya, sy itu keras kepala, namun saya tidak akan mencoba menentangnya. Sy lebih memilih memanfaatkannya. Jadi, sy berpikir keras memikirkan dimana sebaiknya sy tinggal.

Mulanya sy membayangkan kota Barkeley akan menjadi tempat yang ideal—universitas Cambridge dengan cuacanya yg bagus. Namun saat akhirnya sy berusaha tinggal di sana beberapa tahun lalu, sy menyadari sebaliknya. Pesan yg Berkley sampaikan ialah kamu sebaiknya hidup lebih baik. Kehidupan di Berkeley itu sangat beradab. Mungkin merupakan tempat di Amerika dimana orang yang berasal dari eropa utara paling merasa senyaman kapung halaman. Namun kota tsb tidak memancarkan pesan ambisi.

Bila ditinjau kembali, maka tidaklah mengejutkan tempat yg begitu menyenangkan akan menarik orang berbagai status sosial dari seluruh dunia. Universitas Cambridge dengan cuacanya yg bagus, namun ternyata bukanlah begitu. Orang orang yg datang ke Cambridge bukan dikarenakan ketidaksengajaan. Kamu harus berkorban untuk bisa tinggal disana. Biaya hidup disana tinggi dan lingkungannya juga kotor, dan cuacanya juga sering tidak bersahabat. Jadi, orang orang yg mau bermukim di sana adalah mereka yang berambisi untuk hidup tepat di tengah orang orang terpintar sekalipun artinya dia harus tinggal di kota yang tinggi biaya hidup, kotor, dgn cuaca yg buruk.

Saat penulisan posting ini, Cambridge tampak seperti pusat intelektual dunia. Saya menyadari klaim ini seperti yg berlebihan. Namun yang membuatnya terdengar benar ialah mustahil mengklaim tempat lain. Saat ini, tampaknya, universitas amerika adalah yg terbaik, bisa dibuktikan melalui aliran murid murid ambisius yg datang. Dan kota amerika mana yang mempunyai klaim yg lebih kuat ? Apakah New York ? Kota New York mempunyai sejumlah orang cerdas dgn quantitas yang cukup, namun mereka ‘dinetralkan’ kelompok eksekutif berjas yg jumlahnya lebih banyak. Bay Area di New york memiliki banyak ilmuwan dan orang terdidik, namun sekali lagi, mereka jg telah dinetralkan; New York juga mempunyai 2 universitas ternama, namun lokasi keduanya berjauhan. Harvard dan MIT sesuai dengan standar West Coast (pantai barat amerika), namun sayangnya, mereka dikelilingi sekitar 20 buah kampus dan universitas. [1]

Cambridge tampak seperti sebuah kota dimana industri utamanya ialah ide, sementara New York itu finance dan Silicon Valley itu adalah startup.

(ps : Arti Startup itu perusahaan perusahaan yg baru berdiri)

_____

Saat kamu bicara mengenai kota dalam pengertian kami, maka kamu akan membicarakan sekumpulan manusia. Sejak lama, kota itu satusatunya tempat dimana manusia berkumpulan dalam jumlah besar. Jadi kamu bisa memanfaatkan kedua makna tsb secara bersamaan. Namun dari contoh yg sy katakan, kita bisa melihat sendiri berapa besar perubahan yg terjadi. Ney Tork itu kota besar nan klasik. Namun Cambridge cuma salah satu bagian dari kota Barkley, dan Silicon valley bahkan tidak cukup besar (untuk dikategorikan sebuah kota). (San Jose itu bukan pusat silicon valley, walau kadang ada yg mengklaim. Itu cuma seluas 178 miles)

Mungkin internet akan lebih merubah hidup kita. Mungkin suatu hari nanti, komunitas paling penting yang dimiliki seseorang itu berupa komunitas virtual sehingga tempat seseorang berada menjadi tidak penting. Namun sy tidak akan bertaruh untuk itu.

Satu hal yang lucu mengenai kembali ke Cambridge per musim semi ialah saat jalan sore dgn rumah di kanan kirimu. Saat melakukannya di Palo Alto, kamu tidak bisa melihat apapun ke dalam rumah kecuali cahaya buram TV. Di Cambridge, kamu bisa melihat rak buku buku menjanjikan. Palo Alto mungkin seperti Cambridge di tahun 1960, tapi kamu tidak dapat menebak bahwa ada universitas di daerah itu. Sekarang, Palo Alto itu cuma lingkungan orang orang kaya di Silicon Valley. [2]

Seringnya sebuah kota tidak sengaja bicara padamu—dalam hal hal yang kamu lihat melalui jendela rumah, dalam gosip yang kamu dengar. Itu bukan sesuatu yag harus kamu cari cari, namun tetap tidak bisa diabaikan. Satu resiko hidup di Cambridge itu mendengar pembicaraan orang yang menggunakan intonasi introgasi dalam kalimat deklaratif. Namun bila diberi pilihan, sy lebih menyukai percakapan gaya gosip Cambridge dibandingkan New York atau pun Silicon Valley.

Seorang teman yang pindah ke Silicon Valley di akhir 90an mengatakan hal yang paling sulit hidup di sana adalah rendahnya qualitas gosip yg beredar. Saat itu, sy mengira dia cuma eksentrik. Tentu, sangat menarik menguping namun apakah kita benar benar butuh mendengarkan gosip berkualitas sehingga kita memilih tempat tinggal dikarenakannya ? Sekarang sy mengerti apa maksud ucapannya. Pembicaraan yang tidak sengaja kamu dengar menjelaskan dengan orang orang seperti apa kamu bergaul.

_____

Tidak penting betapa tinggi determinasimu, tetaplah susah untuk tidak terpengaruh orang orang di sekitarmu. Tidak banyak hal berubah apapun yang sebuah kota harapkan, namun tentu saja kamu bisa jadi tidak bersemangat saat tidak seorang pun yang peduli pada hal yang kamu pedulikan.

Ada ketidakseimbangan antara dorongan dan peringatan seperti itu layaknya antara memperoleh dan membuang uang. Kebanyakan orang terlalu negatif menilai sejumlah uang : mereka bekerja lebih keras demi menghindari kehilangan sedollar daripada berusaha memperoleh sedollar. Demikian pula, banyak orang yang cukup kuat menolak melakukan sesuatu hanya dikarenakan itulah yang seharusnya dilakukan bila berada di kota tsb. Dan juga ada sedikit orang yg tetap mengerjakan sesuatu yang tidak seorang pun disekitarnya yang peduli.

Dikarenakan ambisi, pada tingkat tertentu, itu saling bertentangan dan kebanggan itu bersifat zero-sum game, setiap kota cenderung terfokus pada satu jenis ambisi. Alasan mengapa Cambridge itu pusat intelektual ialah bukan cuma adanya konsentrasi orang pintar (teknokrat), namun tidak ada hal lain yang orang orang disana anggap lebih luhur. Professor di New York dan Bay area adalah warga negara kelas dua—sampai mereka melakukan penggalangan dana ataupun mendirikan perusahaan startups.

Hal ini mengisyaratkan jawaban bagi sebuah pertanyaan New York semenjak ‘the bubble’ : apakah New York bisa tumbuh sebagai penghubung perusahaan startup untuk mengimbangi Silicon Valley. Satu alasan mengapa hal tersebut tidak mungkin ialah seseorang yg mendirikan perusahaan startup di sana merasa sebagai warga negara kelas dua. [3] Sebabnya, ada ambisi lain yg warga new york lebih kagumi.

Dalam jangka panjang, hal itu bisa buruk bagi new york. Keutamaan sebuah tehnologi baru pada akhirnya bisa diubah menjadi uang. Jadi bila lebih mementingkan uang daripada kekuataan dibanding Silicon Valley, New York akan menyadarinya namun lebih lamban (menangkap momentum). [4] Malah dalam kenyataannya, New York telah dikalahkan Silicon Valley dalam permainannya sendiri : rasio warga California dibanding New York berdasar 400 orang terkaya versi Forbes saat diterbitkan pertama kali sekitar tahun 1982 to .83 itu 1.45 (81:56) . Namun sekarang, tahun 2007, rasio itu menjadi 73:88.

_____

Tidak setiap kota mengirimkan pesan. Hanya kota kota yg menjadi pusat ambisi tertentu yang mengirimkannya. Dan akan susah untuk mengenalinya tanpa pernah tinggal di dalamnya. Sy memahami Pesan new york, Cambridge, dan Silicon Valley karena sy pernah bermukim disana selama beberapa tahun. Washington DC dan Los Angles juga mengirim ambisi serupa namun sy tidak cukup lama bermukim disana sehingga tidak yakin ambisi apa yg mereka sampaikan.

Di Los Angles tampaknya ketenaran adalah hal yg paling didambadambakan, Disana terdapat daftar selebritis paling diinginkan saat ini, dan hobby atau pekerjaan apakah yang paling dikagumi, atau teman teman seperti apa yg paling ingin dimiliki. Jadi pada dasarnya Los Angles itu sama saja seperti New York walaupun lebih menekankan pesona daya tarik fisik.

Di Washington DC, pesannya lebih berupa “siapa koneksimu”. Kamu ingin menjadi seorang insider atau orang dalam. Dalam prakteknya, itu juga berlaku di Los Angles. Ada ‘Daftar VIP’ dan kamu ingin menjadi salah satunya (atau setidanya kenal dekat dengan salah satunya). Perbedaannya cuma bagaimana daftar tsb terisi. bahkan cara pemilihannya pun bukan dasar pembeda.

Pada saat ini, Pesan kota San Francisco tampak seperti Berkeley: hiduplah dengan hidup yg berkualitas. Namun semua itu akan berubah bila cukup banyak startup memilih kota tsb dibanding Silicon Valley. Selama masa ‘the bubble’ (ps: masa dimana mulai banyak perusahaan berbasis tehnologi masuk bursa saham) , pemilihan kota selain Silicon Valley itu pertanda awal kegagalan sebuah perusahaan. Bahkan sekarang sy curiga apabila sebuah perusahaan startup memilih kota San Francisco. Namun bila perusahaan startup mulai berhasil disana maka pemilihan tersebut tidak lagi pilihan bodoh, karena bisa bisa pusat gravitasi Silicon Valley pun akan ikut berpindah ke sana.

Sy belum pernah menemukan tempat selain Cambridge dalam ambisi intelektual. Oxford dan Cambridge (england) itu terlihat seperti Ithaca ataupun Havoner: Pesannya ada namun tidak kentara.

Pada suatu masa, Paris pernah menadi pusat intelektual dunia. Bila kamu hidup di abad ke13, kota paris mungkin akan mengirimkan pesan sebagaimana Cambridge saat ini. Namun saat sy mencoba tinggal di sana setahun kemarin. Sy menyadari ambisi warga paris bukanlah yg bersifat intelektual. Pesan Paris saat ini: Lakukan semuanya dengan gaya (Do it everything with style). Sejujurnya, Sy suka pesan itu. Paris adalah satu satunya kota yg pernah sy tinggali dimana warganya benar benar peduli dengan seni. Di Amerika, hanya sebagian kecil orang orang kaya yang membeli hasil karya seni original, dan bahkan lebih sedikit lagi yg ‘memahaminya’ berdasar nama brand artisnya. Namun dengan melihat ke balik jendela jendela di kota paris, kamu akan melihat bahwa orang benar benar peduli bagaimana sebuah lukisan terlihat. Secara visual, Paris adalah tempat menggosip yang hebat yg sy tau. [5]

Ada sebuah pesan lagi yg sy dengar dari sebuah kota : Di London, kamu masih tetap bisa mendengar (sayub sayub) pesan bahwa seseorang itu sebaiknya lebih aristokat. Bila kamu mendengar baik baik, pesan yg sama juga terdengar di paris, New Yor, dan Boston. Namun di kota kota tsb pesan ini benar benar sayup. 100 tahun lalu mungkin jelas terdengar, namun saat ini kita tidak akan mendengarnya bila tidak benar benar berusaha.

_____

Sejauh ini daftar pesan tsb : Kekayaan, Gaya hidup, Trendy, daya tarik fisik, ketenaran, kekuasaan politik, kekuatan ekonomi, intelektual, kelas sosial, dan kualitas hidup.

Reaksi awal sy terhadap isi daftar itu membuat sy tidak terlalu gembira. Sy selalu memandang ambisi itu sesuatu yg bagus, namun sekarang sy menyadarinya bahwa sy memaknainya cuma pada bidang yang sy anggap penting. Saat kamu mencoba mengurut ambisi setiap orang maka daftar itu pun jadi tidak terlihat cantik.

Berdasar pengamatan yg lebih medalam, sy menyadari beberapa hal pd daftar tersebut cukup mengejutkan (berdasar sejarah). Sebagai contoh, bentuk fisik sama sekali tidak penting 100 tahun lalu (walau mungkin saja 2400 tahun yg lalu). Hal tersebut biasanya cuma penting bagi perempuan, namun di abad ini tampaknya hal tersebut penting jg buat laki laki. Sy tidak tau mengapa, mungkin disebabkan meningkatnya peran perempuan, meningkatnya pengaruh aktor sebagi role model, dan kenyataan bahwa begitu banyak orang yg bekerja di kantor dewasa ini : kamu tidak boleh memakai pakaian yg terlalu mencolok bila bekerja di pabrik, jadi kamu hanya bisa menampilkannya melalui tubuhmu.

Trendy (hipness) adalah salah satu hal yang tidak pernah penting 100 tahun lalu. Atau kamu mau ? Apakah gunanya untuk mengetahui ‘what’s what’ atau sesuatunya sesuatu. Jadi mungkin itu cuma pengganti komponen sosial yang hadir sebagai ‘au fait’. Hal tersebut akan menyelaskan mengapa hipness saat ini dikagumi di London: semacam sopan santun bangsa inggris versi kedua.

Kekuatan ekonomi mungkin masuk daftar 100 tahun lalu, tapi apa maksud perubahan perannya. Dulunya arti kekuatan ekonomi ialah cara mengontrol sumber daya manusia (SDM) dan Sumber daya alam. Akan tetapi akhir akhir ini artinya menjadi kemampuan untuk mengarahkan arah sebuah tehnologi, dan beberapa orang pd sebuah posisi melakukannya tidak untuk menjadi kaya—misalnya, pemimpin gerakan open source. Pemimpin industri di jaman dulu mempunyai labotarium yg dipenuhi orang orang cerdas yg melakukan penelitian buat mereka. Namun, sekarang jenis kekuatan baru ialah mereka itu, pemimpin gerakan open source.

Apabil kekuatan ekonomi mulai mendapat perhatian lebih, maka yang lain pun terlempar keluar: kelas sosial. Sy rasa perubahan keduanya itu saling terhubung. Kekuatan ekonomi, kekayaan, dan kelas sosial hanya penamaan bagi satu hal yg sama namun dalam tingkatan yang berbeda: kekuatan ekonomi diubah menjadi kekayaan, dan kekayaan menjadi kelas sosial. jadi, fokus pengidolaan hanya sekedar berubah sudut pandang.

_____

Apakah setiap orang yang ingin melakukan hal hebat itu harus bermukim di sebuah kota penting? Tidak; setiap kota besar menginspirasi sejenis ambisi tertentu, namun kota tsb bukan satu satunya tempat untuk mewujudkannya. Untuk jenis pekerjaan tertentu, yang kamu butuhkan itu sejumlah teman teman kerja yg berbakat.

Yang kota sediakaan adalah para pemerhati, dan ‘komunitas’. Kebutuhan untuk didengarkan itu tidak akan menjadi begitu penting apabila bidangnya matematika atau fisika, dimana tidak diperlukan pemerhati selain teman temanmu, dan plus berkemampuan menilai layaknya komite penerimaannya. Dalam bidang matematika dan fisika yang kamu butuhkan itu cuma sebuah divisi dengan teman sejawat yang tepat. Dan semua itu bisa dikerjakan dimana saja—Contohnya, Los Alamos, New Mexico.

Adalah dalam bidang seperti seni atau menulis atau teknologi yg terhubung dengan ruan lingkup yg lebih luas. Dalam hal ini, praktisi terbaik tidak dengan mudah terkumpul di beberapa universitas atau pun labotarium penelitian terkenal. Sebagian penyebabnya dikarenakan bakat itu lebih sukar untuk dinilai, dan sebagian yang lain dikarenakan masyarakat membayar untuk benda benda tsb, jadi seseorang tidaklah harus tergantung pada pembelajaran ataupun pendanaan penilitian untuk mensupport idenya sendiri. Dalam bidang bidang yg lebih chaotis inilah berada di kota besar itu menjadi penting: kamu membutuhkan dorongan semangat dari orang orang disekitarmu yang peduli dengan pekerjaan yg kamu lakukan, dan semenjak kamu harus mencari pasangan bisnis bagi dirimu sendiri, kamu membutuhkan kota besar yang bisa menyediakannya .

Kamu tidak harus tinggal seumur di sebuah kota besar untuk memperoleh manfaat darinya. Perlu diingat, tahun tahun paling kritis ialah diawal dan dipertengahan karirmu. Jelaslah, kamu tidak harus tumbuh di sebuah kota besar. Atau pun kamu harus berkuliah di salah satu kampus disana. Untuk kebanyakan mahasiswa, dunia dengan beberapa ribu orang pun sudah cukup besar. Plus, di sebuah kampus, kamu tidak harus berhadapan dengan bagian yg paling susah : menemukan masalah baru untuk dipecahkan.

Adalah pada saat kamu harus naik ke level yg lebih tinggilah, kota besar itu dibutuhkan. Disanalah kamu bisa menemukan partner dan dorongan semangat. Sesudah keduanya kamu temukan, maka kamu bisa meninggalkan kota besar. Para Pelukis impresionis menunjukkan pola serupa : Mereka lahir dan meninggal di sekitar paris (Pissarro lahir di Carribbean), namun yg mengikat mereka adalah tahun tahun mereka habiskan bersama di Paris.

_____

Terkecuali kamu yakin dengan apa yang ingin kamu lakukan dan dimana kamu ingin memulainya, taruhan terbaikmu mungkin dengan mencoba tinggal di beberapa tempat saat kamu masih muda. Kamu tidak akan tahu pesan apa sebuah kota kirim sampai kamu hidup disana, atau setidaknya untuk mengetahui apakah kota tsb masih memancarkan pesan. Kadang informasimu bisa salah : saya pernah mencoba tinggal di Florance saat sy berusia 25, dan beranganangan kota tersebut sebagai pusat seni, namun ternyata sy terlambat 450 tahun.

Bahkan saat sebuah kota masih menjadi pusat ambisi tertentu sampai sekarang, kamu tetap tidak tau pasti apakah pesannya masih beresonansi sampai kamu mendengarnya. Saat sy pindah ke New York, pada awalnya sy benar benar semangat. Jadi butuh cukup lama bagi sy menyadari diri sy tidak seperti orang yg tinggal di sana. Sy terus mencaricari Cambridgenya New York. Dan ternyata ada jauh sejauh jauhnya: sekitar satu jam dengan pesawat terbang.

Bebarapa orang, saat berusia 16, tahu jenis pekerjaan apakah yang mereka inginkan, namun di kebanyakan anak anak ambisius ambisi tampaknya melampaui apa saja harus diambiuskan. Mereka tau mereka ingin melakukan sesuatu yang besar. Mereka hanya belum memutuskan apakah mereka akan menjadi Bintang Rock atau ahli bedah otak. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun itu artinya apabila kamu mempunyai jenis ambisi paling umum ini, kamu mungkin mencari tahu dimana harus tinggal melalui trial dan error. Kamu mungkin harus mencari kota dimana kamu nyaman serasa rumah untuk mengetahu ambisi seperti apakah yang kamu miliki.

Notes

[1] Ini adalah salah satu keuntungan adanya universitas yan tidak dikuasai pemerintah. Saat pemrintah memutuskan bagaimana mengalokasikan dana, maka disebabkan tarik ulur politik banyak universitas bertebaran secara geografis. Tidak akan ada pemerintahan sentralistik yang akan meletakkan 2 universitas terbaiknya di kota yang sama, terkecuali kota tsb adalah ibu kota negara 9yang mana akan menimbulkan masalah yang lain). Namun para akademisi tampaknya bisa berkelompok sebagaimana orang orang di bidang lain, dan saat diberikan kebebasan mereka mengambil keuntungan darinya.

[2] Ada beberapa professor tua di Palo Alto namun satu demi satu meninggal dunia dan rumah mereka pun ditransformasi oleh para pengembang menjadi McMansions dan dijual ke ‘VPs of Bus Dev’.

[3] Sudah berapa kali kamu membaca soal pendiri startup yang tetap hidup hemat sementara perusahaan mereka meroket ? Siapa yang tetap berpakaian dalam jeans dan tshirt, mengendarai mobil tua yg mereka miliki sejak SMA ? Bila kamu melakukan hal semacam itu di New York, orang orang akan memperlakukanmu tanpa hormat. Bila kamu berjalan ke dalam restoran terkenal di San Francisco dengan jeans dan tshirt, mereka tetap sopan padamu; Siapa yang tahu siapa sebenarnya kamu ? Tapi tidak di New York.

Salah satu pertanda sebuah kota itu berpotensi menjadi pusat teknologi ialah jumlah restoran yang masih mewajibkan jas bagi laki laki. Menurut Zagat’s tidak ada restoran semacam itu di San Francisco, LA, Boston, maupun Seattle. Ada 4 di Washington DC, 6 di Chicago, 8 di London, 13 di New York, dan 20 di Paris.

(Zakat memasukkan Ritz Carlton Dining Room yang berada di San Fransisco sebagai restoran yang mewajibkan jas tapi sy tidak dapat mempercayainya. Jadi sy menelepon mereka dan ternyata mereka tidak seperti itu. Tampaknya hanya ada restoran saja di sepanjang West Coast (pantai barat) yang mewajibkan jas : The French Laundry di Napa Valley )

[4] Ide ide satu langkah lebih maju dari kekuatan ekonomi, jadi akan sesuai bila pusat intelektual seperti Cambridge suatu hari nanti lebih maju dari pada Silicon Valley sebagaimana Silicon Valley dengan New York.

Hal tsb tampak mustahil saat ini; Bila Dalam hal ini, Boston semakin lama semakin tertinggal jauh. Satu satunya alasan yang pernah sy sebutkan ialah kemungkinan jalur perubahan dari bentuk ide ke sebuah perusahaan startup akhir akhir ini menjadi lebih mudah. Adalah lebih mudah saat ini bagi sepasang hacker tanpa pengalaman kerja untuk memulai startup daripada 10 tahun lalu. Bila kamu meramalkan bagaimana perubahannya 20 tahun kemudian, mungkin keseimbangan kekuatan akan mulai bergeser kembali. Saya tidak akan bertaruh, baik mendukung maupun melawan ramalan itu.

[5] Apabila Paris menjadi tempat dimana orang peduli dengan seni, mengapa malah New York yang menjadi pusat bisnis seni ? Karena di abad 20, seni dipandang sebagai brand yg terpisah dengan seni sebagai benda. New York adalah tempat para pembeli terkaya, namun satu satunya yang mereka inginkan dari seni itu cuma brand, dan semenjak kamu memadukan brand dengan apapun yang cukup untuk diidentifikasikan, maka bisa saja kamu menggunakannya melalui media lokal.

Terima kasih kepada Trevor Blackwell, Sarah Harlin, Jessica Livingston, Jackie McDonough, Robert Morris, dan David Sloo yang telah membaca draft essay ini.

Comment pada essay.

Survey Redaksi : Apakah posting ini terlalu berat dan berbau IT ? Sy sedang survey sekaligus belajar menulis topik semacam ini sambil berusaha membuatnya tetep informatif bagi semua orang. Cara menjawab paling sederhana adalah dgn memberitahu sy pd paragraph berapa kamu mulai bosan dan melompat ke bagian box komentar....plus penjelasan singkat kalau bisa.... :)


Foto Chairil Anwar
Blogku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Blogku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak


[hasil hacking puisi Chairil Anwar, Rumahku]

6 June

Artikel Sebelum : Tujuan Mengcustom Feed
Artikel Berikut : Pikchur, layanan Photo Sharing
 

Komentar

  • #1
    No Gravatar
    Tigis
    8 June 2008

    Kalo di kota tegal kira2x yg dituntut utk lebih apanya ya…

    gagal maning soooonnnnnn :)

    [Reply]

    wah ngak tau…ngak pernah tinggal di sana sih…kala pernah, mungkin sy bisa jawab. :)

    [Reply]

     
  • #2
    No Gravatar
    tc
    9 June 2008

    komeng dulu ah, baru baca..abesnya panjang benerrr…hehehe

    [Reply]

     
  • #3
    No Gravatar
    uwiuw
    10 June 2008

    iya, sy juga baru menyadari panjangnya ‘32′ biasanyanya posting disini paling paling panjangnya cuma 2 sampe 13. Namanya juga (terjemahan) essay.

    [Reply]

     
  • #4
    No Gravatar
    temukul
    11 June 2008

    Agak sulit juga memahami terjemahan langsung. tapi beberapa poin berhasil saya tangkap dengan baik. Tq.

    [Reply]

    hahaah sorri atuh, i’m a bad translator :)

    [Reply]

     
  • #5
    No Gravatar
    bedh
    13 June 2008

    huhuhu saya juga merasakan semakin besarsebuah kota maka akan memiliki irama dan tempo hidup yang lebih cepat akibatnya akan menimbulkan semakin besar tingkat persaingan dan juga beragam gaya hidup. semuanya malah membuat orang yang berkecimpung di dalamnya dituntut untuk lebih berusaha beradaptasi agar tidak ketinggalan irama. efeknya akan membuat orang-orang yang didalamnya memang menjadi lebih ambisius.
    tetapi itu semua belum tentu suatu hal yang jelek karna untuk terus dapat berada di track orang didalamnya di pakssa untuk dapat bekerja dan berkreatifitas.
    huhuhu mudah2an pemahaman saya nggak terlalu meleset jauh :)

    [Reply]

    Betul sekali, bedh. emang kayak gitu. Tapi pada artikel ini ada tambahannya. Paul graham mengatakan “kota tertentu mendorong seseorang memiliki jenis ambisi tertentu.”

    ambil contoh silicon valley, orang orang yg bekerja disana akan didorong oleh kultur lokal yg mengagumi tehnologi sementara kota berkley dengan universitas cambridgenya akan mendorong warga disana menjadi akademisi yg tangguh :)
    Kalau konteks indonesia…hmm mungkin yg paling kentara (bagi sy) adalah perbedaan dunia entertaiment di bandung dan jakarta. meniti karir jadi artis memang bisa dimana saja. namun pada akhirnya harus bermuara ke jakarta. Bandung juga punya banyak artis dan entertaimen terkenal namun industri pendukung seperti Studio rekaman, TV swasta nasional, rumah produksi dll berkumpul disana. Semua ahli ahli terbaik berkumpul di jakarta. Beginilah bila sy juga tidak salah :).

    Btw, boleh sy masukin komentar kamu ke bagian samping yah..plus link ke blog kamu ? :)

    [Reply]

     

 

Niche Blog

 

Blog Flux Directory
Join My Community at MyBloglog!


Template Mabokcendol
didesain secara sengaja
oleh Bakawan