Home | a plain old wp coder | Web Design and Wordpress Custom

 

Cities And Ambition Part 3

Saat kamu bicara mengenai kota dalam pengertian kami, maka kamu akan membicarakan sekumpulan manusia. Sejak lama, kota itu satusatunya tempat dimana manusia berkumpulan dalam jumlah besar. Jadi kamu bisa memanfaatkan kedua makna tsb secara bersamaan. Namun dari contoh yg sy katakan, kita bisa melihat sendiri berapa besar perubahan yg terjadi. Ney Tork itu kota besar nan klasik. Namun Cambridge cuma salah satu bagian dari kota Barkley, dan Silicon valley bahkan tidak cukup besar (untuk dikategorikan sebuah kota). (San Jose itu bukan pusat silicon valley, walau kadang ada yg mengklaim. Itu cuma seluas 178 miles)

Mungkin internet akan lebih merubah hidup kita. Mungkin suatu hari nanti, komunitas paling penting yang dimiliki seseorang itu berupa komunitas virtual sehingga tempat seseorang berada menjadi tidak penting. Namun sy tidak akan bertaruh untuk itu.

Satu hal yang lucu mengenai kembali ke Cambridge per musim semi ialah saat jalan sore dgn rumah di kanan kirimu. Saat melakukannya di Palo Alto, kamu tidak bisa melihat apapun ke dalam rumah kecuali cahaya buram TV. Di Cambridge, kamu bisa melihat rak buku buku menjanjikan. Palo Alto mungkin seperti Cambridge di tahun 1960, tapi kamu tidak dapat menebak bahwa ada universitas di daerah itu. Sekarang, Palo Alto itu cuma lingkungan orang orang kaya di Silicon Valley. [2]

Seringnya sebuah kota tidak sengaja bicara padamu-dalam hal hal yang kamu lihat melalui jendela rumah, dalam gosip yang kamu dengar. Itu bukan sesuatu yag harus kamu cari cari, namun tetap tidak bisa diabaikan. Satu resiko hidup di Cambridge itu mendengar pembicaraan orang yang menggunakan intonasi introgasi dalam kalimat deklaratif. Namun bila diberi pilihan, sy lebih menyukai percakapan gaya gosip Cambridge dibandingkan New York atau pun Silicon Valley.

Seorang teman yang pindah ke Silicon Valley di akhir 90an mengatakan hal yang paling sulit hidup di sana adalah rendahnya qualitas gosip yg beredar. Saat itu, sy mengira dia cuma eksentrik. Tentu, sangat menarik menguping namun apakah kita benar benar butuh mendengarkan gosip berkualitas sehingga kita memilih tempat tinggal dikarenakannya ? Sekarang sy mengerti apa maksud ucapannya. Pembicaraan yang tidak sengaja kamu dengar menjelaskan dengan orang orang seperti apa kamu bergaul.

_____

Tidak penting betapa tinggi determinasimu, tetaplah susah untuk tidak terpengaruh orang orang di sekitarmu. Tidak banyak hal berubah apapun yang sebuah kota harapkan, namun tentu saja kamu bisa jadi tidak bersemangat saat tidak seorang pun yang peduli pada hal yang kamu pedulikan.

Ada ketidakseimbangan antara dorongan dan peringatan seperti itu layaknya antara memperoleh dan membuang uang. Kebanyakan orang terlalu negatif menilai sejumlah uang : mereka bekerja lebih keras demi menghindari kehilangan sedollar daripada berusaha memperoleh sedollar. Demikian pula, banyak orang yang cukup kuat menolak melakukan sesuatu hanya dikarenakan itulah yang seharusnya dilakukan bila berada di kota tsb. Dan juga ada sedikit orang yg tetap mengerjakan sesuatu yang tidak seorang pun disekitarnya yang peduli.

Dikarenakan ambisi, pada tingkat tertentu, itu saling bertentangan dan kebanggan itu bersifat zero-sum game, setiap kota cenderung terfokus pada satu jenis ambisi. Alasan mengapa Cambridge itu pusat intelektual ialah bukan cuma adanya konsentrasi orang pintar (teknokrat), namun tidak ada hal lain yang orang orang disana anggap lebih luhur. Professor di New York dan Bay area adalah warga negara kelas dua-sampai mereka melakukan penggalangan dana ataupun mendirikan perusahaan startups.

Hal ini mengisyaratkan jawaban bagi sebuah pertanyaan New York semenjak ‘the bubble’ : apakah New York bisa tumbuh sebagai penghubung perusahaan startup untuk mengimbangi Silicon Valley. Satu alasan mengapa hal tersebut tidak mungkin ialah seseorang yg mendirikan perusahaan startup di sana merasa sebagai warga negara kelas dua. [3] Sebabnya, ada ambisi lain yg warga new york lebih kagumi.

Dalam jangka panjang, hal itu bisa buruk bagi new york. Keutamaan sebuah tehnologi baru pada akhirnya bisa diubah menjadi uang. Jadi bila lebih mementingkan uang daripada kekuataan dibanding Silicon Valley, New York akan menyadarinya namun lebih lamban (menangkap momentum). [4] Malah dalam kenyataannya, New York telah dikalahkan Silicon Valley dalam permainannya sendiri : rasio warga California dibanding New York berdasar 400 orang terkaya versi Forbes saat diterbitkan pertama kali sekitar tahun 1982 to .83 itu 1.45 (81:56) . Namun sekarang, tahun 2007, rasio itu menjadi 73:88.

Tags: , , ,

Leave a Reply. Btw, i have right to delete your comment. Sometimes, i need to save my databse space.




Validated by HTML Validator (based on Tidy)