Skip to: Content | Navigation

Bakawan

web desain & multimedia

Cilaka 12 Indonesia yang Krisis Identitas

12 May

Mulanya ngobrol dengan gedang soal komik dan berakhir dgn perasaan ‘putus asa’ sebagai sesama ori (orang indonesia). Mungkin bukan putus asa layaknya orang yg lelah hidup dan diam2 ingin mati tetapi melainkan seperti dua orang yg sedemikian ingin hidup sehidup-hidupnya tapi harus menyaksikan mimpi2nya hancur menabrak tembok2 tak terlihat perusahan rekaman.

Katanya, mimpi itu punya sayap kebebasannya sendiri. Tapi mengapa kami malah semakin apatis melihat situasi ?

Posting ini diinspirasi debat kusir dgn 3 ekspatriat…orang prancis, spanyol, dan amerika. Mereka bertiga tinggal satu kostan di dago. Samasama suka nongkrong di CCF (Pusat kebudayaan prancis) bandung. Pembicaraannya seputar budaya lokal..yg lucunya semua ini masih nyambung dgn obrolan kami ttg tantowi yahya tempo hari…Tema percakapanya pun jadul akan tetapi mantap : krisis identitas dan mengapa kami, sebagai generasi kesekian setelah kemerdekaan, tidak merasa bangga dgn indonesia ?

Bangsa Indonesia adalah bangsa pelaut. Tapi mana buktinya ? Pulaunya aja yg banyak, posisinya aja yg strategis, tapi kapal selam orang bisa lewat menembus perairan indonesia tanpa terdeteksi.

Dengan semua pertanyaan ini dan dengan mengutip Pramudia Ananta Toer (secara serampangan) : orang2 sini bikin musik ngak ngik ngok dan bila diganti lirik lagu indonesia menjadi inggris maka hasilnya yah ngak ngik ngok lagi, dibukalah keran sumpah-serapah. Bersiaplah, kami, sedang merapal amarah. Kalau kamu tidak tahan maka berhentilah membaca walau kami mengharap komentarmu tapi lebih baik kamu mundur karena kami akan merapal amarah.

Kata gedang, adalah mimpi2 anak2 musik di indonesia untuk menjadi pemusik indonesia yg go internasional — stand out di level global — Dan sy setuju namun dengan catatan bermusik yg indonesiana. Mimpi globalisasi yg luhur, membawa harum nama bangsa. Tapi sejatinya semua itu akan dihajar gugatan 3 expatriat barusan yg sekalipun berbeda2 redaksi tapi berinti sama :

“Bukan ini yg diharapkan dari performer atau entertainer indonesia..jauh2 ke mari (indonesia) gw pengen liat eksotisme …dan yg gw dapatkan something like something in somewhere bla bla in home …only using different faces …this is fuc*ing wrong.”

Kembali lagi pd logika gedang :

Siapa aja bisa ngeband dan jadi sehebat dewa, peterpan, slank atau band lainnya. Tapi kalau liriknya diganti jadi bhs inggris maka yg kau dapatkan bule berwajah melayu1. Coba picingkan mata, dan bayangkan…apa yg kamu lihat jauh di dalam imajinasimu…kalau yg sy lihat : dandanan dari mata kaki sampe leher, mereka itu bule banget…tapi wajahnya itu loh…made-n-repack-n-only-distibuted in indonesia, banget! — ngak ada identitas!

Begitu jg, mimpi mimpi The Sigit sbg rock-n-roll made in indonesia, Mocca sbg band indipop Indonesia, ataupun artis manapun yg bikin kompilasi ataupun konser ataupun presentasi karya di luar negeri tak lebih dari kebanggaan aneh bila dibandingkan mereka yg menjadi atlit ataupun pemenang olimpiade matematika.

Bahkan demi mendapat efek yg lebih tragis, mari nge-gunjing-in j-rock… mereka tuh jepang banget dari dandanan, musik — bener2 ngekor gila babi — sampe lirik berbahasa babi indonesianya pun terdengar kayak babi berlogat jepang karena pengucapannya yg babi dibelo-belo sehingga menambah efek babi dalam pernyataan kami ini band jepang loh ladies-n-getlement. oh bloody hell stop mockering your own people, ngak babi keren banget !

Kebayang kecewanya Eddie Vedder bila konser Pearl Jam dibuka cupumanik — band grunge bandung. Dia pasti me-repet dgn logat sunda yg kental: “…alah maneh copycat…”. Dan mungkin dia akan seneng dibuka pas band (walaupun bisa dikatakan Pas Band sekarang ini telah menjadi sebentuk kekecewaan yg lain :-( … hell no! not again…)

ironis #@$@! cilaka dua belas.

Mungkin di jazz ada gamelannya seperti batik pd fashion…tetapi musik populer…tidak ada yg mengingatkan kita dgn identitas origin kita. Asal muasal kita ditela konsumerisme. That’s why jazz is better then any band we see in the public television. Yes, Any band!

Sementara designer indonesia juga mendapat tempat tersendiri. Design baju itu Seglamor apapun tetap ngak berguna bagi kehidupan sehari hari. Bangsa kita belum boleh bicara mode paling mutahir krn bagaimana bisa membicarakan trend mode seolah keniscayaan sementara kebanyakan orang masih berkelahi dgn penganguran dan busung lapar. Itukan jadi lelucon buruk.

Namun meskipun ngak berguna, dunia mode mempunyai pertarungan nilainya sendiri dalam mendefinisikan kembali indonesia. Sy bisa melihatnya saat designer2 bangsa kita tidak mau fight secara frontal melawan arus mainstream liga milan, new york, atau pun paris. Mereka menggelar pagelaran atau presentasi karya keluar negeri sambil membawabawa songket, batik, sarung, dan pola khas nenek moyang dgn sentuhan modern. Tentu saja, semua ini indonesiana.

Mungkin saat modelnya mulai keliatan dada dan paha, baru kami melihatnya wow ini ngak timur… ini ngak sopan…ini bukan indonesia yg kami kenal — se-uraban dan se-kontemporer apapun…kami, orang timur, tidak sevulgar itu.

Kebebasan ekspresi ! kemewahan yg tidak setiap seniman bisa dapatkan. Krn kebebasan tsb hanya bisa dimiliki mereka yg mapan seperti Setiawan Djodi, yg bebas menyanyikan lagu apapun, yg liriknya absurb kalau perlu. Sementara bagi mereka yg berjuang dari bawah dan hendak makan dari bermusik, maka harus belajar nrimo sistem yg dibangun cukong2 perusahaan rekaman. Atau berakhir menjadi penyanyi dari kafe ke kafe, pergi tur dari hotel ke hotel berbintang. Tak pernah punya album sendiri. Terus manggung dgn lagu lagu band orang lain. Kemudian pensiun sebagai keyboard pengiring penyanyi kawinan… Akhir yg coba dihindari gedang dan kawan kawan.

Tapi ironis 2 jg betapa terpengaruhnya kami berdua atas kekecewaan bule2 itu…terasa bener betapa susahnya mencari identitas. Apalagi harus memenuhi ekspektasi 3 orang backpacker, yang telah berkelana menyebrangi lautan, melewati puluhan negara, dan ribuan kilometer jauhnya meninggalkan negeri masing2.

Perlu diingat, ekspektasi seorang backpacker berbeda dengan seorang turis yg umumnya datang untuk jalan2, makan2, flirting2, foto2, koleksi sovenir, dan bila tidak ada aral melintang : jajan.

* berikan jari tengahmu, kawan!

Posting ini diinspirasi perasaan gedang dan temen2 disekitarnya menembus mayor label.

Hagahagahag referensi

  1. Indonesia bukan jawa dan bukan juga melayu dan bukan juga cina dan bukan juga india dan bukan aceh dan bukan bugis dan bukan papua…indonesia itu sabang sampe merouke diikat dgn nasib dan darah…hagahaga salah makan apa jadi patriot gini ? — jawab : makan ati! ;-)
  2. menambah efek ironis : penulis menulis dgn bahasa campur-aduk inggris plus indonesia. Serasa ngak yakin dgn bahasa indonesia yg menjadi bahasa ibu.
 

    Related Post :

    Tulisan (yg mungkin) Mirip
  1. The changcuter, Peterpan, dan Teori Metafor Web Desain
  2. Kata Tidak dalam Lirik Lagu
  3. Lagu Buat Gembel Biar Naik Kelas
  4. Ideologi Logo Baru Peterpan
  5. Bulan lalu, sekarang, dan pearl jam
 
Survey #Maut
Apakah konten posting ini terlalu Teknis IT ? any comment are welcomed

:xoxo:



Saya blogger ini cakep banget! nauzubillah!
amit amit bawang bombay!

 

Trackback & Pingback

  • Friendster Temporary Maintenance Suck! | Bakawan Web Design

    [...] situs terdepan di kawasan asia dan sekarang menjadi situs paling sering diakses di philipina dan indonesia menurut [...]

  • Blackscene, Online Dating Bagi Keturunan Afrika Amerika | Bakawan Web Design

    [...] tidak nyambung bagi orang melayu seperti kita untuk mengetahui detail kencan online / online dating ras kulit hitam. Namun berhubung [...]

  • Teman Susah Cari Pacar | Bakawan Web Design

    [...] dari mereka yg tidak pintar memilih pacar. Btw, prasyarat utama dari temanku itu cuma dua yaitu orang indonesia keturunan ras apapun asal agama islam. Sementara hubungan jarak jauh maupun berbasis hubungan dunia [...]

  • Private
     
    © 2007-2009 all right milik kite, sumpeh! muke gile jangan dibajak donk!