5 January
16 April, sy berjanji. Entah mengapa sy tumbuh dewasa menjadi sosok yang seperti ini, Yang harus mengandalkan momentum tertentu untuk merubah diri. Padahal sejak kecil, sy ingin lepas dari apapun. Berdiri, melangkah, dan melakukan apapun mengandalkan semangat diri sendiri. Terlihat betapa besar pengaruh komik-komik silat pd sifat sy sejak kecil, walaupun secara general sy tidak suka kekerasan, apalagi yang menindas. Melihat orang melakukan itu saja sy memalingkan muka, apalagi harus melakukannya–jd teringat ospek brigez dulu–pd saat ada kesempatan menghajar anak baru dan melakukan semua hal yang senior sy lakukan kepada sy. Tapi dgn sadar, sy memutuskan memilih bagian dapur saja–memasak. Sy tidak pintar melakukan kekerasan fisik, walaupun ahli dalam kekerasan psikologi dan perang urat saraf ;p –becanda denk.
Seharusnya diri sendiri itu bukan dikendali cuaca, penanggalan tertentu, begitu juga nasib melainkan sepasang tangan sendiri seperti pendekar. Beginilah sosok hero bagi saya. Tapi ya, itulah Masalahnya. Entah mengapa sy tumbuh menjadi sosok seperti ini. Yang harus menetapkan tanggal tertentu pada suatu tahun tertentu untuk memulai babak baru –mengerjakan skripsi.
Padahal setiap hari pada dasarnya sama dengan hari yang lain, kecuali Hari idul fitri-idul adha–hari ju’mat, krn ketiganya suci. Sementara ulang tahun hanyalah sebuah tanggal pada kalender. Tidak ada keagungan disana, apalagi kesucian. Sy mengaku sy Narcis, tapi setidaknya tidak senarcis itu sampai harus berulang tahun setiap tahun dan mengingatnya secara khusus dan mewajibkan orang lain mengingatnya juga sampai sy mati. Walaupun lumrah bagi kebanyakan orang, tetap saja itu terlalu sentimentil bagi saya.
Kembali ke soal momentum. Hal yang ingin sy ubah ialah sikap sy mengenai skripsi. Sampai sekarang sy belum juga menyelesaikannya. Bukan tentang sy tidak punya ide, atau otak sy ngak nyampe atau sy takut lulus dan jadi pengangguran. Bukan semua itu. Banyak hal yang bisa dijadikan bahan skripsi dan otak sy (setahu sy) ngak bodoh dan soal kerjaan–hmm saat ini sy udah bekerja.
Tapi masalahnya adalah malas–alasan bodoh tapi begitulah. Masalah utamanya ialah kepribadian sy sendiri yang tumbuh seperti ini. Bila sy menggap sesuatu tidak penting maka seluruh badan dan jiwa sy juga akan menganggapnya begitu–bukan cuma pikiran–sehingga sluruh daya hidup dialihkan pada hal lain dan membuat yang lainnya terbengkalai….dan bila sudah begini maka tidak seorangpun yang dapat membuat sy berubah Pikiran. Tidak orang tua, sahabat, teman, lawan, maupun tetangga. Egois memang :q.
Dalam banyak hal sy egois dan beginilah akhirnya bila ingin jadi hero versi sendiri. Saya tidak sungkan kalau dimintai tolong dan menganggapnya sebuah keharusan kalau orang yang memintanya memang butuh. Tapi saat orang lain ingin menolong sy maka reaksi sy langsung “No, Thank! I can Do it…go Away..Leave me Alone”.
Itulah mengapa sy tidak mau mendengar nasehat paman-bibi sy, baik tentang skripsi maupun hal lain. Sy tidak pernah menganggap usia adalah lambang kebijaksanaan. Apalagi mereka kadang membuat sy jengkel. Mereka itu seperti tangan-tangan tak terlihat yang mencoba menyetir hidup sy, terutama dengan orang tua sy sebagai pion. Padahal sy saat ini bahagia dengan hidup sy
Sy ingin tetap seperti saat ini: dengan celana ngatung, janggut gondrong, mimpi calon istri bercadar, benci tahlilan, benci sufi, benci wirid, benci orang bodoh bicara agama di tv dan menjadikan agama selingan diantara joke2 segar ;Q ( seperti entertaiment ) –itulah mengapa muslim di luar indonesia aneh melihat pengajian gaya orang indonesia seperti di kBRI-KBRI (Kedutaan Republik Indonesia) di luar negeri. Pengajian kok ketawa ketiwi, memangnya ketoprak :o. Intinya, sy mencoba taat beragama sebagaimana sy ingin.
Saat ini Sy bahagia. Sy lebih bahagia daripada waktu sy masih angggota NII (negara Islam Indonesia)–militan, radikal, fanatik dan bodoh serta takfiri. Saat ini Sy bahagia sekalipun dianggap aneh. Dan bila mereka mencoba mengubah sy, seperti yang mereka lakukan di antara mereka, dimana yang paling tua coba mengendalikan prilaku yang lebih muda agar tidak keluar dari keumuman (stay with the majority or be exile) maka saya akan katakan tidak dan tidak dan tidak lagi. Sy tidak mengakui otoritas semacam itu.
Bagaimanapun juga seaneh apapun, sy adalah sy. Dan adalah pilihan sadar untuk seperti ini. sy tidak mabuk dan sy tidak dalam pelet orang lain. Apalagi bagaimana sy bisa patuh, bila sy tidak punya hutang budi. Bila sy berhutang maka sy akan tesenyum saja —melawan dalam diam. Tapi tidak, sy tidak berhutang so leave me alone dalam soal pilihan agama sy, bila tidak: minggir! sekalipun sy selfish, tapi jg dengan empati, Itulah mengapa sy lebih suka ditindas daripada menindas, kecuali apabila ada seseorang yang berada di depan jalan sy maka hanya ada dua pilihan: minggir atau mati.
Hero versi sy itu self-aware (sadar-diri) and selfish tapi taat atas titah yang kuasa. Begitulah banyak sifat sy yang sekilas terlihat seperti dualisme, seperti kutub barat-timur, tapi semuanya sudah mengendap dalam usia yang masih muda. Jadi sekilas, lebih terlihat sebagai kebebalan daripada kedewasaan.
Banyak hal yang telah dikorbankan: dari uang, waktu, masa muda, bahkan cinta demi ketaatan pada NII–tapi walaupun artinya jahil dalam permasalahan agama, tetap sj merupakan sebuah pilihan sadar. Saat berbai’at untuk mengorbankan nyawa dan harta sy dlm keadaan sadar. Saat menjalankan setiap titah dan amanah, sy sadar. Begitu juga saat sy mengatakan bahwa NII itu sesat-menyesatka-khawarij dan akhirnya memutuskan keluar, itu jg pilihan sadar. Pilihan yang saya tanggung dgn semua konsekuensinya–sampai hari ini. dan begitu juga dengan skripsi ini.
Kenapa ya, bila tidak ada unsur uang yang tegas ataupun alasan selain membantu teman maka sy cenderung malas menyelesaikan sesuatu ? padahal menurut sy, sy ini agak oportunis ;p tapi sy sudah berjanji mulai tgl 16 april sy akan memulai kembali pengerjaan skripsi. Untuk apa? Pekerjaan sy saat ini tidak adak hubungan dengan ijazah dan kuliah: Programer. Mungkin sy mengejakan ini untuk orang tua sy…bagaimanapun jg sy berhutang lebih dari sekedar budi.
Survey Redaksi : Apakah posting ini terlalu berbau IT ? Sy sedang survey sekaligus belajar menulis topik IT yg disajikan ringan bersahaja. Apakah sy sudah berhasil ?
Blogku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Blogku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
[Chairil Anwar, Rumahku]
Related Posting
- Hak setiap orang untuk menaklukkan dunia, bukan begitu kawan?
- Hari yg bahagia
- Tips Membedakan Kain Kiloan Sisa Pabrik
- Pesanan Kain Sutra Penyebab Sakit Kepala
- Mengapa aku benci pulang [ke rumah] ?
Next & Previous
- Next : Bikin Peta Kuliner
- Previous : Writing a killer blog
Did you find what you need ?
Use our free searchbox to found
what you're looking for.
Internal Search
Eksternal Google Search
5 Artikel Terbaru
Tag Artikel
Komentar Terbaru




Belum ada Komentar. Hmm apakah ini pertanda posting ini perlu direvisi ?